alexametrics

Sejarah Galatama, Kompetisi Sepak Bola Indonesia Era 80an

Syaiful Rachman
Sejarah Galatama, Kompetisi Sepak Bola Indonesia Era 80an
Ilustrasi Bola [Shutterstock]

Galatama melahirkan sejumlah pemain yang kini menjadi legenda sepak bola Indonesia.

Suara.com - Dalam sejarahnya, sepak bola Indonesia pernah memiliki beragam kompetisi bergengsi, dan Salah satu yang paling dikenang adalah kehadiran Galatama.

Galatama menjadi salah satu liga atau kompetisi yang pernah mewarnai sepak bola Indonesia. Hadirnya kompetisi ini pun menjadi sejarah emas persepak bolaan Tanah Air mengingat banyaknya hal menarik yang terjadi di dalamnya.

Entah berapa kali saja Indonesia memiliki kompetisi dengan nama dan format berbeda. Dalam satu dekade terakhir saja, Tanah Air memiliki beragam kompetisi yang ada.

Bambang Nurdiansyah. (8k.com)
Bambang Nurdiansyah. (8k.com)

Pecinta sepak bola Indonesia tentu tak asing dengan nama-nama kompetisi seperti Indonesia Super League (ISL), Indonesia Premier League (IPS), Indonesia Soccer Championship (ISC), hingga akhirnya menjadi Liga 1 yang dikenal seperti saat ini.

Baca Juga: Link Live Streaming PSM Makassar Vs Persebaya, Liga 1, 18 September

Kompetisi-kompetisi yang disebutkan ini menjadi kompetisi yang mewarnai sepak bola Indonesia dalam satu dekade terakhir. Dengan kata lain, bisa dibayangkan berapa banyak kompetisi berskala nasional yang pernah ada sejak Indonesia merdeka di tahun 1945.

Dari sekian banyak kompetisi yang ada, mungkin pecinta sepak bola Indonesia tak asing dengan kompetisi bernama Galatama.

Kompetisi yang pernah menghiasi sepak bola Indonesia di era 80 an hingga pertengahan 90 an ini menjadi salah satu kompetisi terbaik yang pernah ada di Tanah Air.

Sematan terbaik sendiri tak lepas dari perjalanan Galatama di sepak bola Indonesia yang banyak melahirkan fakta menarik dan pemain-pemain hebat di masanya.

Lantas, seperti apa kompetisi Galatama tersebut? Berikut rangkumannya.

Baca Juga: PSIS Semarang Mengamuk di Wibawa Mukti, Bantai Persiraja 3-1

Galatama: Kompetisi Sepak Bola Indonesia yang Jadi Inspirasi J-League

Galatama merupakan singkatan dari Liga Sepak Bola Utama. Saat pertama kali lahir, kompetisi ini dijadikan sebagai liga semi profesional yang dibentuk pada tahun 1979.

Saat Galatama lahir, Indonesia saat itu memiliki kompetisi berskala nasional yang masih bersifat amatir, yakni Perserikatan.

PSSI yang kala itu diketuai Ali Sadikin, lantas menyelenggarakan kompetisi semi profesional sehingga lahirnya Galatama atau Liga Sepak Bola Utama.

legenda sepakbola Indonesia Zulkarnain Lubis tutup usia. (Twitter PSSI)
legenda sepakbola Indonesia Zulkarnain Lubis tutup usia. (Twitter PSSI)

Di awal kelahirannya, Galatama hanya diikuti 8 klub saja. Seiring berjalannya waktu, peserta Galatama bertambah dan membuat kompetisi ini terbagi dalam 2 divisi yang berlaku pada 1980, 1983 dan 1990.

Hal tersebut pun seakan menunjukkan adanya inkonsistensi pada penyelenggaraan turnamen kala itu. Meski demikian, Galatama tetap berjalan.

Berjalannya Galatama sendiri sama sekali tak mengganggu Perserikatan. Pasalnya, kedua kompetisi ini tak saling berikatan baik dalam pengelolaan klub dan pengelola liga.

Mudahnya, jika Perserikatan berisikan tim-tim dari daerah dan menggunakan APBD, Galatama diisi oleh klub-klub yang dananya didapat dari perusahaan swasta.

Karena model penyelenggaraan dan sistem yang dimiliki, Galatama pun sempat menjadi acuan liga profesional di sepak bola Asia.

Bahkan, ada pula rumor yang beredar bahwa Galatama menjadi bahan studi pembuatan J-League yang saat ini menjadi kompetisi terpopuler di Asia.

Dari Galatama pula, banyak pemain hebat lahir. Bahkan banyak yang menyebut bahwa kompetisi ini lebih baik dari Perserikatan secara permainan, mengingat Perserikatan memiliki semangat untuk pembinaan pemain.

Sederet pemain bintang pun banyak mengisi Galatama. Sebut saja Ricky Yakobi, Bambang Nurdiansyah, Zulkarnain Lubis, dan lain-lain.

Tak hanya pemain lokal, Galatama juga pernah dihuni oleh para pemain asing seperti Fandi Ahmad yang sempat membawa Niac Mitra Surabaya menjadi juara.

Sayangnya, aturan penggunaan pemain asing di Galatama ini dihapuskan oleh ketua PSSI kala itu, Sjarnoebi Said.

Nyatanya, pelarangan penggunaan pemain asing ini menjadi salah satu penyebab merosotnya pamor Galatama bersamaan dengan munculnya skandal dan pengelolaan yang tidak profesional.

Hingga akhirnya, pada tahun 1994 PSSI meleburkan Galatama dan Perserikatan menjadi satu kompetisi yang bernama Liga Indonesia.

[Penulis: Zulfikar Pamungkas]

Komentar