Revolusi Timnas Italia di Bawah Roberto Mancini, Nyata tapi Singkat

Arief Apriadi | Suara.com

Sabtu, 26 Maret 2022 | 09:36 WIB
Revolusi Timnas Italia di Bawah Roberto Mancini, Nyata tapi Singkat
Ekspresi Roberto Mancini saat memimpin timnas Italia dalam pertandingan Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2022 lawan Irlandia Utara pada 16 November 2021. ANTARA/Reuters/JASON CAIRNDUFF

Suara.com - Musim panas lalu, Roberto Mancini dielu-elukan karena berhasil merevolusi timnas Italia kembali menjadi kekuatan besar di sepak bola Eropa setelah menjuarai EURO 2020.

Namun, belum genap setahun berlalu dari adegan yang mirip seperti kegiatan rutin di sebuah ajang temu jumpa idola dan penggemar itu, Italia tiba-tiba mengalami nasib serupa 2017 silam yakni gagal memperoleh tiket putaran final Piala Dunia.

Berdasarkan hasil undian playoff kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa, Italia bertemu dengan Makedonia Utara di semifinal Jalur C. Pertandingan itu tak ubahnya sebuah duel antara tim juara Eropa dan tim yang baru saja melakoni debut mereka di turnamen internasional pada musim panas lalu.

Secara komposisi tim, Italia seharusnya tidak kesulitan untuk melewati Makedonia Utara dan kemudian menciptakan final playoff Jalur C yang ideal menghadapi Portugal nantinya.

Nyaris sepanjang laga di Stadion Renzo Barbera, Palermo, Kamis (24/3), Gli Azzurri begitu mendominasi permainan seperti diperlihatkan statistik pertandingan di mana mereka memiliki tak kurang dari 65 persen penguasaan bola dan melepaskan sedikitnya 32 kali percobaan tembakan.

Segala dominasi itu, ditambah kehadiran pemain terbaik Eropa 2020/21 Jorginho dan pemain terbaik EURO 2020 Gianlugi Donnarumma di bawah mistar gawang, nyatanya tak cukup untuk menghindarkan publik penggemar sepak bola Italia dari salah satu kekecewaan terbesar mereka abad ini.

Ketika bola umpan sodoran Bojan Mioski diakhiri dengan sebuah tendangan spekulatif Aleksandar Trajkovski dari luar kotak penalti dan bersarang ke gawang Italia, publik tuan rumah marah sementara para pemain mereka dihantam tertunduk lesu atas kenyataan pahit itu.

Andai saja Ciro Immobile bisa mengendalikan lebih baik kekuatan tembakannya di awal laga, mungkin Italia akan menjalani pertandingan yang lebih nyaman. Andai saja Domenico Berardi bisa memanfaatkan satu saja dari empat percobaannya termasuk saat diberi bola cuma-cuma oleh kiper Stole Dimitrievski, mungkin Italia akan menciptakan final playoff ideal di Jalur C.

Tetapi laiknya hidup, sepak bola bukanlah tentang perandaian hal-hal yang mungkin terjadi. Maka Mancini, Jorginho, Donnarumma, Immobile, dan Berardi harus menerima kenyataan bahwa sekali lagi mereka hanya akan menonton dari layar kaca ketika putaran final Piala Dunia berlangsung.

Menuju puncak dan jurang revolusi

Sekira lima tahun yang lalu, kekecewaan yang sama menggelayuti publik sepak bola Italia ketika Gli Azzurri gagal meraih tiket putaran final Piala Dunia 2018 karena kalah agregat 0-1 dalam dua leg pertandingan playoff melawan Swedia.

Namun, publik Italia saat itu boleh dibilang tak berharap banyak karena kepelatihan Gian Piero Ventura yang tidak menimbulkan optimisme besar lantaran ia datang tanpa modal prestasi apapun ketika ditunjuk menggantikan Antonio Conte setelah Italia terhenti di perempat final EURO 2016.

Optimisme membuncah ketika Mancini ditunjuk menjadi nakhoda Gli Azzurri pada 14 Mei 2018.

Optimisme semakin membesar ketika Mancini sukses menyamai rekor pelatih legendaris Vittorio Pozzo berupa sembilan kemenangan kompetitif beruntun di pertandingan resmi saat melumat Liechtenstein 5-0 dalam pertandingan kualifikasi Euro 2020 Grup J di Vaduz pada 15 Oktober.

Rekor itu belakangan dimonopoli oleh Mancini setelah Italia juga memenangi dua pertandingan sisa kualifikasi Euro 2020 Grup J membuatnya jadi pelatih tersukses yang pernah membawa Gli Azzurri menang 11 pertandingan kompetitif beruntun.

Revolusi besar digaungkan Mancini di awal tenor kepelatihannya dengan skuad Italia yang berisikan tak satu pun pemain dari tim-tim besar berbasis di Milan, Roma maupun Turin.

Petualangan Mancini dan revolusi besarnya terus membuahkan hasil-hasil menawan hingga puncaknya ia mampu membimbing Italia tampil di final EURO 2020 melawan Inggris.

Laga di Wembley pada 11 Juli 2021 itu bukan saja menyudahi paceklik Italia tampil di final sebuah turnamen besar, tetapi dilengkapi dengan keberhasilan mengalahkan Inggris lewat adu penalti yang mengakhiri puasa gelar Gli Azzurri setelah Piala Dunia 2006.

Tak berhenti sampai di situ, Mancini juga sukses membuat Italia memecahkan rekor baru yakni rentetan nirkalah dalam 36 pertandingan kompetitif melampaui Brazil dan Spanyol yang sebelumnya berbagi rekor itu.

Pemecahan rekor pada 5 September 2021 dengan hasil imbang 0-0 melawan Swiss dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa Grup C itu diikuti dengan penajaman tiga hari kemudian saat Italia menang telak 5-0 atas Lithuania di Reggio Emilia.

Sayangnya, rekor itu berakhir sebulan berselang ketika Italia takluk 1-2 melawan Spanyol dalam semifinal final four UEFA Nations League 2020/21 pada 6 Oktober 2021.

Empat hari sesudah rekor itu berakhir, Italia mampu mengalahkan Belgia dalam perebutan tempat ketiga UEFA Nations League 2020/21 tetapi sejak itu grafik penampilan Gli Azzurri bergerak menuju jurang perjalanan revolusi mereka bersama Mancini.

Italia gagal menang dalam dua pertandingan terakhir di kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa Grup C ditahan imbang 1-1 oleh Swiss di Roma pada 12 November dan cuma bermain nirgol di Belfast melawan Irlandia Utara.

Dua hasil itu memaksa Italia yang hingga pertandingan ketujuh masih memuncaki Grup C berakhir di posisi kedua klasemen akhir dan harus melewati fase playoff untuk perebutan satu dari tiga tiket terakhir putaran final Piala Dunia 2022 bagi zona Eropa.

Selepas kekalahan melawan Makedonia Utara di Palermo, Kamis (24/3) kemarin, lengkap sudah puncak dan jurang revolusi Mancini bersama Italia.

"Juli lalu (menjuarai EURO 2020) merupakan hal terbaik yang saya alami di level profesional, dan ini adalah kekecewaan terbesar," kata Mancini selepas kekalahan itu.

"Sayangnya, inilah sepak bola, hal-hal luar biasa terjadi di dalamnya, pertandingan semacam ini misalnya, kami memiliki begitu banyak kesempatan."

"Sejak menjadi juara Eropa, mungkin keberuntungan yang menaungi kami berbalik menjadi kesialan, sekarang kami harus tahu apa itu sebuah penderitaan," ujar Mancini.

Berdamai dan beranjak

Seperti yang dikatakan Mancini, ini saatnya bagi skuad Gli Azzurri untuk memahami penderitaan, berdamai dengannya dan beranjak menuju tantangan yang masih akan menanti mereka di masa mendatang.

Tentu saja, berdamai dan beranjak jauh lebih mudah dikatakan ketimbang dilakoni. Ambil contoh Jorginho, pemain terbaik UEFA 2020/21 itu mengaku ia sepertinya akan dihantui dua kegagalannya di sisa masa hidupnya.

Sejak memulai karier profesionalnya, Jorginho punya statistik gemilang dalam urusan mengkonversi tendangan titik putih dengan 38 keberhasilan dalam 44 kesempatan.

Tidak ada waktu yang tepat bagi sebuah kegagalan, tapi Jorginho jelas menyesali mengapa dua kegagalan penaltinya harus lahir dalam dua momen penting yang bisa memuluskan jalan Italia tampil di putaran final Piala Dunia 2022.

Dua-duanya datang ketika Jorginho harus berhadapan dengan kiper gaek Swiss Yann Sommer. Pada 5 September 2021 eksekusi penalti Jorginho begitu dekat dengan jangkauan Sommer dan publik tuan rumah Swiss bersorak sorai merayakan kegagalan itu dengan pertandingan yang berakhir imbang nirgol.

Lantas pada 12 November 2021 Jorginho berpeluang untuk menjadi pemecah kebuntuan 1-1 melawan Swiss di Roma saat berjalan mendekati titik putih tepat di pengujung waktu normal dan membawa satu kaki Italia ke Qatar. Yang terjadi justru lebih ironis sebab eksekusi penalti Jorginho melambung tinggi di atas mistar gawang, laiknya sebuah ramalan harapan Italia yang kemudian hilang beberapa bulan berselang.

"Sungguh sakit bila memikirkannya, saya masih terbayang-bayang dan mungkin itu akan menghantui sepanjang hidup saya," kata Jorginho kepada RAI Sport setelah Italia disingkirkan Makedonia Utara.

"Dua kali berada di dekat titik putih dan tak mampu membantu timmu, negaramu adalah sesuatu yang akan membekas bersama saya."

"Orang-orang bilang kita harus terus menegakkan kepala dan terus melangkah, tapi itu sungguh berat," katanya.

Jorginho kini sudah memasuki umur kepala tiga dan genap berusia 31 tahun ketika putaran final Piala Dunia 2022 berlangsung di Qatar nanti.

Ketika Italia gagal mencapai putaran final Piala Dunia 2018, sedikitnya tiga nama veteran yakni Andrea Barzagli, Daniele De Rossi dan kiper legendaris Gianluigi Buffon memutuskan pensiun dari timnas. Hal itu juga disusul pemecatan Ventura dari kursi pelatih timnas dan pengunduran diri Carlo Tavecchio dari jabatan presiden federasi sepak bola Italia, FIGC.

Menilik skuad Italia saat ini, selain Jorginho sedikitnya ada tujuh nama lain yang sudah berusia kepala tiga termasuk kapten mereka Giorgio Chiellini (37) dan tandem abadinya Leonardo Bonucci (34).

Bukan tidak mungkin tren pensiun juga akan mengikuti kegagalan Italia tampil di Piala Dunia 2022 ini, tetapi yang patut dipertanyakan adalah apakah Mancini masih punya resolusi untuk membangkitkan kembali revolusinya di Gli Azzurri.

"Saat ini terlalu dini untuk membicarakan masa depan, kami harus mencerna kekalahan ini. Secara hubungan antarmanusia, saya bisa bilang saya mencintai para pemain ini lebih dalam ketimbang setelah kesuksesan Juli lalu," kata Mancini.

Pada akhirnya Mancini memang hanya punya pilihan berdamai dengan kegagalannya dan beranjak menumbuhkan kembali benih-benih era baru timnas Italia, atau berdamai dan beranjak sepenuhnya dengan salam perpisahan berupa kegagalan.

[Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dianggap Parasit Real Madrid, Gareth Bale Serang Balik Media Spanyol

Dianggap Parasit Real Madrid, Gareth Bale Serang Balik Media Spanyol

Bola | Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:48 WIB

Hasil Argentina vs Venezuela di Kualifikasi Piala Dunia: Lionel Messi dkk Menang 3-0

Hasil Argentina vs Venezuela di Kualifikasi Piala Dunia: Lionel Messi dkk Menang 3-0

Bola | Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:25 WIB

Tengah Berlangsung, Berikut Link Live Streaming Argentina vs Venezuela di Kualifikasi Piala Dunia

Tengah Berlangsung, Berikut Link Live Streaming Argentina vs Venezuela di Kualifikasi Piala Dunia

Bola | Sabtu, 26 Maret 2022 | 07:18 WIB

Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Afrika Tadi Malam: Mesir Tekuk Senegal, Ghana Diimbangi Nigeria

Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Afrika Tadi Malam: Mesir Tekuk Senegal, Ghana Diimbangi Nigeria

Bola | Sabtu, 26 Maret 2022 | 05:33 WIB

Makedonia vs Portugal: Portugal Hati-Hati, Makedonia Lawan Berat?

Makedonia vs Portugal: Portugal Hati-Hati, Makedonia Lawan Berat?

Your Say | Jum'at, 25 Maret 2022 | 18:07 WIB

Terkini

Jadi Pahlawan Persib Lawan Semen Padang, Ramon Tanque Ungkap Makna Selebrasi Uniknya

Jadi Pahlawan Persib Lawan Semen Padang, Ramon Tanque Ungkap Makna Selebrasi Uniknya

Bola | Kamis, 09 April 2026 | 07:02 WIB

Hasil Liga Champions Tadi Malam: Barcelona Tumbang di Kandang, PSG Jinakkan Liverpool 2-0

Hasil Liga Champions Tadi Malam: Barcelona Tumbang di Kandang, PSG Jinakkan Liverpool 2-0

Bola | Kamis, 09 April 2026 | 06:57 WIB

Pundit Belanda Kritik keras Maarten Paes Usai Ajax Telan Pil Pahit Lagi

Pundit Belanda Kritik keras Maarten Paes Usai Ajax Telan Pil Pahit Lagi

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 21:45 WIB

Raih Gelar Young Player of The Month, Muhammad Ragil Ingin Terus Belajar

Raih Gelar Young Player of The Month, Muhammad Ragil Ingin Terus Belajar

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 21:41 WIB

Luis Enrique Tegaskan PSG vs Liverpool Tanpa Favorit

Luis Enrique Tegaskan PSG vs Liverpool Tanpa Favorit

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 21:00 WIB

Jadwal Pekan 27 BRI Super League, Persib dan Persija Ketemu Lawan Berat, Borneo FC Menang Mudah?

Jadwal Pekan 27 BRI Super League, Persib dan Persija Ketemu Lawan Berat, Borneo FC Menang Mudah?

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 20:56 WIB

Peringatan untuk Bojan Hodak! Bali United Serius Jegal Persib Bandung

Peringatan untuk Bojan Hodak! Bali United Serius Jegal Persib Bandung

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 20:45 WIB

Performa Dean Zandbergen yang Bikin Timnas Indonesia Harus Segera Rekrut Naturalisasi

Performa Dean Zandbergen yang Bikin Timnas Indonesia Harus Segera Rekrut Naturalisasi

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 20:37 WIB

Wiljan Pluim Bongkar Skandal Paspor, Soroti Dampaknya ke Pemain Timnas Indonesia

Wiljan Pluim Bongkar Skandal Paspor, Soroti Dampaknya ke Pemain Timnas Indonesia

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 20:21 WIB

Vietnam dan Indonesia Hancurkan Malaysia di 2 Cabor! Futsal dan Sepak Bola

Vietnam dan Indonesia Hancurkan Malaysia di 2 Cabor! Futsal dan Sepak Bola

Bola | Rabu, 08 April 2026 | 20:08 WIB