- Alec Van Hoorenbeeck yang menjadi rekan setim Sandy Walsh di KV Mechelen pada musim ini dipinjamkan FC Twente ke Heracles Almelo.
- Berbeda dengan Mees Hilgers, Alec Van Hoorenbeeck pada akhirnya bisa keluar dari FC Twente dan bergabung dengan Heracles Almelo.
- Musim panas lalu, Hilgers berharap bisa melangkah ke level yang lebih tinggi setelah tampil konsisten di Eredivisie.
Suara.com - Eks rekan Sandy Walsh, Alec Van Hoorenbeeck buka suara soal liku liku kepindahan pemain di klub Eredivisie, FC Twente.
Alec Van Hoorenbeeck yang menjadi rekan setim Sandy Walsh di KV Mechelen pada musim ini dipinjamkan FC Twente ke Heracles Almelo.
Van Hoorenbeeck mengungkapkan perjalanan transfernya yang mendadak dan penuh dinamika.
“Saya mengira musim panas ini akan tetap bermain di Twente," ucapnya dikutip dari Twentefans.nl
Ia lalu menjelaskan bahwa klub FC Twente sedari awal sudah mengira bek Timnas Indonesia, Mees Hilgers akan hengkang di bursa transfer musim panas.
"Klub berpikir Mees Hilgers akan hengkang, dan jika itu terjadi, saya tidak bisa pergi. Tapi transfer itu tak pernah terealisasi,” ujarnya.
Hingga dua minggu sebelum jendela transfer ditutup, klub memberi sinyal ada kesempatan bagi Van Hoorenbeeck untuk meninggalkan Twente, tergantung siapa yang lebih cepat menemukan klub baru.
Kompetisi di lini belakang Twente sangat ketat. Robin Pröpper dipulangkan, sementara klub juga merekrut Stav Lemkin.
“Bagi pelatih, Robin adalah pemain kunci, dan saya akan menjadi penggantinya. Musim lalu banyak rotasi di lini belakang, tapi kali ini pelatih ingin duet tetap, dan saya merasa di luar rencana itu. Saya ingin bermain penuh satu musim di suatu tempat,” ungkapnya.
Baca Juga: Mees Hilgers Bersinar di Laga Persahabatan, FC Twente Akhirnya Luluh Juga?
Berbeda dengan Mees Hilgers, Alec Van Hoorenbeeck pada akhirnya bisa keluar dari FC Twente dan bergabung dengan Heracles Almelo.
Keputusan transfer terjadi sangat cepat. Pada hari terakhir jendela transfer, Van Hoorenbeeck masih sarapan di FC Twente ketika seseorang dari manajemen klub menghubunginya.
“Mereka bilang ada minat dari Heracles dan ingin bertemu. Saya langsung berangkat, dan pembicaraan berjalan positif. Akhirnya saya memutuskan pergi ke Heracles. Kecepatannya luar biasa, dan memutuskan begitu saja tentu tidak mudah. Untungnya banyak yang tetap sama, saya masih tinggal di Enschede, hanya jarak ke latihan jadi sedikit lebih jauh, sekitar sepuluh menit,” cerita Van Hoorenbeeck.
Nasib Mees Hilgers
Pemain keturunan Indonesia itu kembali tidak masuk dalam daftar skuad untuk laga derby Twente akhir pekan ini di Stadion Grolsch Veste.
Hilgers masih menolak duduk satu meja dengan manajemen klub untuk membahas kontrak baru, membuat kisah transfernya menjadi “drama tak berujung” di Enschede.
Musim panas lalu, Hilgers berharap bisa melangkah ke level yang lebih tinggi setelah tampil konsisten di Eredivisie.
Namun, keinginannya pindah klub gagal terwujud.
Sebagai langkah antisipasi, Direktur Olahraga FC Twente, Jan Streuer, langsung mendatangkan Stav Lemkin sebagai pengganti potensial di lini belakang.
Kini, manajemen klub memberikan syarat tegas, jika Hilgers ingin kembali bermain di pertandingan resmi, ia harus menandatangani kontrak baru hingga minimal 2027.
Hal itu dilakukan agar Twente tidak kehilangan sang pemain secara gratis pada musim panas tahun depan.
Namun, hingga kini belum ada kesepakatan. Hilgers pun harus puas menonton dari tribune.
“Ini situasi yang kompleks,” kata jurnalis Tijmen van Wissing di acara De Oosttribune.
“Hilgers masih belum mau berbicara dengan klub. Ia sempat tampil di laga uji coba melawan Telstar, tapi negosiasi tetap buntu.”
Van Wissing menambahkan bahwa peran agen dan tekanan dari pihak eksternal turut memperkeruh keadaan.
“Ada tiga agen yang pernah menanganinya. Pihak pemain punya versi sendiri, begitu juga Twente. Bahkan asosiasi pemain VVCS juga ikut campur, tapi menurut saya terlalu menajamkan isu, seolah klub menekan Hilgers untuk menandatangani kontrak baru,” jelasnya.
Kontributor: Azka Putra