- SEA Games 2025 sepak bola dimulai 3 Desember di Thailand, walau tuan rumah dilanda banjir, dengan Indonesia menargetkan final.
- Timnas Indonesia U-22 memiliki kekuatan skuad merata dengan striker tajam, namun rentan terhadap serangan balik umpan panjang.
- Thailand U-22 kuat di lini tengah namun lemah di lini depan karena absennya beberapa pemain kunci Eropa dan minimnya jam terbang.
Suara.com - SEA Games 2025 cabang sepak bola akan kick off pada 3 Desember mendatang.
Meski Thailand sebagai tuan rumah tengah dilanda banjir, turnamen tetap berjalan dan persaingan menuju medali dipastikan berlangsung ketat.
Timnas Indonesia: Skuad Merata, Lini Serang Mematikan
Sebagai juara bertahan, Timnas Indonesia U-22 datang dengan kekuatan hampir penuh, meski federasi dan pemerintah memilih meredam euforia dengan hanya menargetkan final.
Hal ini dikarenakan faktor tuan rumah Thailand yang biasanya diuntungkan, serta fakta historis bahwa Indonesia belum pernah mencapai final ketika SEA Games digelar di Negeri Gajah Putih.
Kekuatan Timnas Indonesia U-22
Pelatih Indra Sjafri memanggil empat pemain luar negeri ke dalam skuad, Marselino Ferdinan (AS Trencin), Ivar Jenner (Jong Utrecht), Mauro Zijlstra (FC Volendam) dan Dion Markx (TOP Oss)
Namun sorotan terbesar tertuju pada dua penyerang utama yakni Rafael Struick dan Jens Raven, pencetak 7 gol dan top skor Piala AFF U-23 2025.
Jika Jenner tampil, Timnas Indonesia memiliki pengatur tempo kuat dengan kemampuan tembakan jarak jauh.
Baca Juga: Bursa Pelatih Timnas: Timur Kapadze Kandidat Kuat, STY Tak Masuk Kriteria?
Meski skuad merata, gaya bermain Garuda Muda masih memiliki celah.
Jika tertinggal dan dipaksa menyerang, Timnas U-22 cenderung mengandalkan umpan panjang.
Selain itu, pola skuat Garuda tidak efektif melawan tim yang kuat duel udara.
Timnas Indonesia U-22 juga kerap kesulitan mengantisipasi bola mati lawan, khususnya tendangan sudut.
Pada final Piala AFF U-23 2025, mereka kalah dari Vietnam lewat situasi corner.
Thailand U-22: Kuat di Tengah, Tumpul di Depan
SEA Games bukan lagi prioritas utama Thailand, terlebih turnamen ini tidak masuk kalender FIFA.
Akibatnya, pelatih Thawatchai Damrong-Ongtrakul tak bisa memanggil pemain yang berkarier di luar Asia Tenggara. Bahkan beberapa pemain lokal di level tinggi pun tak mendapat izin klub.
Dua bintang yang absen ialah Jude Soonsup-Bell (Grimsby Town, Inggris) dan Erawan Garnier (RC Lens, Prancis).

Kekuatan Thailand
Thailand tetap berbahaya berkat lini tengah mereka:
Seksan Ratree (kapten), pemain serbaguna yang telah membela timnas senior sejak 2024 dan mencetak gol di 3 dari 4 laga terakhir Thailand.
Sittha Boonlha, gelandang bertahan yang tampil konsisten di U-23 Asia dan membantu Thailand lolos ke Piala Asia U-23 2026.
Taktik mereka banyak bertumpu pada serangan dari sisi kiri, memanfaatkan kombinasi Ratree dan full-back Phon-Ek Jensen yang cepat dan eksplosif.
Kelemahan Thailand
Masalah utama justru ada di lini depan:
Para striker minim jam bermain di Thai League.
Yotsakon Burapha yang diproyeksikan menjadi penyerang utama hanya pemain rata-rata di liga Singapura dan cadangan di PT Prachuap FC.
Malaysia U-22: Minim Pengalaman, Bergantung pada Bintang
Malaysia tergabung di Grup B bersama Vietnam dan satu tim lainnya. Hanya juara grup yang lolos otomatis, sehingga setiap laga akan terasa seperti final.
Namun analisis awal menunjukkan skuad Malaysia kalah dari sisi kedalaman:
Dari 25 pemain yang dipanggil, banyak yang bermain di divisi bawah kompetisi lokal.
Meski memiliki dua pemain naturalisasi Fergus Tierney dan Ziad El Basheer, komposisi keseluruhan terlihat timpang.
Minimnya pengalaman membuat Malaysia diperkirakan memilih gaya bermain reaktif dan bertumpu pada individu.
Kelemahan Malaysia
Kesulitan menjaga ritme permainan karena banyak pemain jarang tampil di level klub.
Waktu latihan yang terganggu berbagai faktor membuat penyatuan taktik belum optimal.
Ketergantungan kepada segelintir pemain inti berpotensi membuat mereka goyah saat memasuki menit-menit akhir.
Kontributor: M.Faqih