- Zainab El-Mouden, pemain semi-profesional London Seaward FC, menyeimbangkan disiplin Ramadan dengan jadwal latihan padat.
- Ia menyesuaikan menu sahur menjadi *overnight oats* untuk menjaga energi saat berpuasa dan bertanding.
- FA mengumumkan dukungan berupa jeda singkat bagi pemain Muslim berbuka selama pertandingan Piala FA berlangsung.
Suara.com - Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus bagi Zainab El-Mouden. Bagi pemain semi profesional London Seaward FC itu, bulan suci adalah tentang disiplin, refleksi diri, dan menjaga mimpi di lapangan hijau.
Pagi-pagi buta, sekitar pukul 04:00 pagi, Zainab yang tinggal di kawasan Brixton, London harus sudah bangun untuk makan sahur.
Menu makan sahurnya, semangkuk overnight oats, irisan pisang, madu, dan seteguk air kelapa sebelum salat Subuh.
“Orang sering bertanya apa yang paling sulit saat Ramadan. Bagi saya bukan puasanya, tapi kurang tidur,” ujarnya dilansir dari Hyphenonline
Sebagai pesepak bola yang juga menjalani kehidupan sehari-hari di luar lapangan, El-Mouden harus menyeimbangkan ibadah, latihan, dan aktivitas harian. Puasa sepanjang hari diiringi jadwal latihan yang padat menjadi kombinasi yang tidak mudah.
![Cerita Zainab Pemain Keturunan Jalani Puasa Ramadan di Inggris: Melawan Semua Godaan Hawa Nafsu [Linkedin.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/21/96743-zainab-el-mouden.jpg)
Namun, pemain berusia 22 tahun berdarah Inggris-Maroko itu menegaskan bahwa kecintaannya pada sepak bola dan kedekatannya dengan agama justru menjadi sumber energi terbesar.
“Ramadan bukan soal makanan, tapi perjalanan spiritual. Setiap tahun saya merasa semakin dekat dengan agama saya,” katanya.
Demi menjaga performa di lapangan, El-Mouden melakukan penyesuaian pola makan. Menu sarapan berat seperti telur, kacang panggang, dan hash brown terpaksa ia tinggalkan sementara.
“Saya harus fokus pada karbohidrat yang dilepas perlahan agar tetap bertenaga saat bermain,” jelasnya.
Baca Juga: Bisa Ditiru! Ini Cara Beckham Putra Jaga Kondisi di Bulan Ramadan
Overnight oats menjadi solusi utama karena memberikan energi stabil tanpa membebani sistem pencernaan.
Perjalanan El-Mouden tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat beberapa kali berhenti bermain karena tekanan dan pengalaman diskriminatif.
“Sebagai pesepak bola perempuan yang juga membuat konten, ada saja orang yang tidak suka,” ujarnya.
Ia bahkan pernah merasa membenci sepak bola dan kehilangan kepercayaan diri. Identitasnya sebagai “perempuan berhijab yang bermain bola” sempat terasa membatasi.
Namun pada Januari 2025, ia memutuskan kembali ke lapangan setelah melalui refleksi mendalam.
“Saya berdoa, jika sepak bola baik untuk saya, jadikan saya sukses. Jika tidak, jauhkan dari saya,” tuturnya.
Baginya, Ramadan bukan penghalang, melainkan penguat karakter.
“Hubungan saya dengan Tuhan dan Islam semakin kuat seiring bertambahnya usia dan perjalanan saya di sepak bola,” katanya.
Fenomena pemain Muslim yang tetap bertanding saat Ramadan bukan hal baru.
Nama-nama seperti Mohamed Salah, Noussair Mazraoui, dan Omar Marmoush tetap tampil di level tertinggi selama bulan suci.
Kompetisi Premier League bahkan telah menunjukkan dukungan nyata. Pada 2021, pertandingan Leicester City melawan Crystal Palace sempat dihentikan sejenak agar Wesley Fofana dan Cheikhou Kouyate dapat berbuka puasa.
Terbaru, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) mengumumkan laga Piala FA yang berlangsung saat Ramadan akan memberi jeda singkat bagi pemain Muslim untuk berbuka.