- Dugaan komentar rasis Prestianni kepada Vinicius Junior saat laga Liga Champions memicu UEFA melakukan investigasi resmi.
- Insiden tersebut menyebabkan pertandingan sempat terhenti sepuluh menit karena Vinicius melaporkan dugaan hinaan kepada wasit pertandingan.
- Wacana aturan baru muncul, mengusulkan sanksi bagi pemain yang berbicara sambil menutup mulut, berpotensi dikenal sebagai Prestianni Law.
Suara.com - Wacana perubahan aturan di sepak bola internasional mencuat setelah insiden dugaan komentar rasis yang melibatkan Gianluca Prestianni terhadap Vinicius Junior dalam laga Liga Champions.
Dalam pertandingan play-off leg pertama antara Real Madrid melawan SL Benfica, Vinicius mencetak satu-satunya gol kemenangan.
Namun selebrasi pemain Brasil itu berubah menjadi momen panas setelah ia melapor kepada wasit terkait dugaan komentar diskriminatif dari Prestianni.
Usai mencetak gol, Vinicius langsung menghampiri wasit dan mengadukan dugaan hinaan. Protokol anti-rasisme pun diaktifkan, menyebabkan pertandingan sempat terhenti sekitar 10 menit.
Kylian Mbappe juga disebut mendengar ucapan tersebut dan mendesak agar Prestianni dijatuhi sanksi larangan bermain pada leg kedua di Santiago Bernabeu.
![Pelatih Benfica, Jose Mourinho, melontarkan pernyataan kontroversial usai kekalahan 0-1 dari Real Madrid pada leg pertama play-off Liga Champions di Estadio da Luz, Rabu (18/2) dinihari WIB. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/18/73403-vinicius-jr.jpg)
UEFA telah mengumumkan investigasi atas dugaan perilaku diskriminatif tersebut.
Proses penyelidikan dilaporkan bisa memakan waktu hingga tiga pekan.
Jika terbukti bersalah, Prestianni berpotensi menghadapi sanksi berat berdasarkan Pasal 14 Regulasi Disiplin UEFA terkait rasisme dan perilaku diskriminatif, termasuk kemungkinan larangan bermain hingga 10 pertandingan.
Mantan bek Manchester United dan Arsenal, Mikael Silvestre, yang kini menjadi anggota FIFA Players Voice Panel, mengungkapkan adanya pembahasan internal terkait aturan baru.
Baca Juga: Siapa Pemain yang Tidak Dibawa John Herdman di FIFA Series 2026?
Menurut Silvestre, ada wacana untuk memberikan sanksi kepada pemain yang secara jelas menutupi mulut saat berbicara dalam situasi panas di lapangan.
“Kami mencoba mencari cara untuk memberi sanksi kepada pemain yang berbicara sambil menutupi mulut. Ini berbeda jika hanya membahas taktik, tetapi jika ada unsur kebencian, itu harus ditindak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa diskusi dengan wasit juga diperlukan untuk menentukan batasan tindakan yang bisa diambil di lapangan.
Wacana ini pun dijuluki sejumlah pihak sebagai potensi Prestianni Law.
Pihak Benfica membantah keras tuduhan tersebut. Klub asal Lisbon itu menyatakan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan menyebut Prestianni menjadi sasaran kampanye pencemaran nama baik.
Prestianni sendiri telah membantah menggunakan kata-kata rasis dan bahkan menonaktifkan kolom komentar di akun Instagram pribadinya.