-
Shayne Pattynama memaknai Ramadan sebagai ruang belajar toleransi dan kedisiplinan selama di Indonesia.
-
Bek Persija tersebut mengaku sulit saat mencoba puasa 12 jam di cuaca panas.
-
Atmosfer Ramadan di Indonesia dianggap memberikan motivasi spiritual tambahan bagi para atlet lapangan.
Shayne sempat menjajal ketahanan tubuhnya dengan tidak makan dan minum dalam durasi waktu tertentu.
Eksperimen pribadi ini membuatnya semakin menaruh rasa hormat yang tinggi kepada para pejuang di lapangan hijau.
Ia menyadari bahwa menjaga performa puncak saat tubuh kekurangan asupan energi adalah sebuah pencapaian luar biasa.
"Saya sangat menghormati semua orang yang menjalankannya karena itu tidak mudah, terutama bagi atlet," kata Shayne.
Bagi seorang atlet, tantangan ini berlipat ganda karena harus tetap berlatih keras di bawah terik matahari.
"Saya pernah mencoba puasa sekitar 12 jam, dan itu jelas tidak mudah, apalagi dengan cuaca yang cukup panas," sambungnya.
Keunikan Atmosfer Ramadan di Indonesia
Shayne melihat ada kekuatan spiritual yang mampu mengubah rasa lelah menjadi sebuah kebahagiaan kolektif.
Perbedaan mencolok sangat terasa ketika ia membandingkan nuansa Ramadan di Indonesia dengan negara lain.
Di Indonesia, gema bulan suci merambah ke segala aspek kehidupan masyarakat secara masif dan terasa hidup.
"Ramadan terasa seperti sebuah perayaan, sesuatu yang dilakukan dengan penuh makna," ucap eks Buriram United tersebut.
Populasi muslim yang besar membuat setiap sudut kota seakan merayakan kehadiran bulan penuh ampunan ini.
"Di sini, lebih banyak orang yang menjalankan Ramadan karena mayoritas penduduknya muslim, suasananya terasa lebih kuat dan lebih hidup," lanjutnya.
Dalam industri sepak bola, periode ini juga membawa penyesuaian khusus pada jadwal pertandingan resmi.
Penyusunan ulang waktu kick-off dilakukan agar para pemain bisa memulihkan energi setelah berbuka puasa.