-
Media Vietnam BTV meragukan dampak pemain naturalisasi Eropa Timnas Indonesia di Piala AFF.
-
Vietnam merasa lebih unggul berkat stabilitas tim di bawah asuhan pelatih Kim Sang-sik.
-
Potensi absennya pemain diaspora akibat kendala izin klub menjadi ancaman serius skuad Garuda.
Suara.com - Persaingan panas menjelang turnamen sepak bola bergengsi di Asia Tenggara kini mulai menunjukkan tensi tinggi. Media massa asal Vietnam secara terang-terangan melontarkan keraguan terhadap kapasitas Timnas Indonesia pada ajang mendatang.
Padahal, tim kebanggaan tanah air saat ini sedang gencar memperkuat komposisi pemain lewat jalur naturalisasi.
Deretan nama yang berkompetisi di liga-liga elit Benua Biru terus didatangkan untuk memperkokoh lini pertahanan maupun menyerang.
Namun, media Vietnam bernama BTV beranggapan bahwa kehadiran talenta Eropa bukan jaminan bagi Indonesia.
Kekuatan kolektif dianggap jauh lebih krusial dibandingkan hanya mengandalkan individu yang bermain di luar negeri.
Mereka menilai bahwa atmosfer kompetisi di Asia Tenggara memiliki karakteristik unik yang sulit diprediksi secara matematis.
Meskipun banyak pemain Indonesia merumput di Belanda atau Italia, hal itu dipandang sebelah mata oleh lawan.
Media tersebut tetap teguh pada pendirian bahwa tim nasional mereka memiliki keunggulan yang tidak terbantahkan.
“Mereka belum tentu dianggap lebih kuat daripada Vietnam,” tulis BTV.
Baca Juga: Pengganti Thom Haye Ditemukan! Gelandang Jerman Berdarah Surabaya
Kepercayaan diri yang tinggi dari pihak Vietnam ini muncul seiring dengan perkembangan positif tim mereka.
Kepemimpinan pelatih asal Korea Selatan, Kim Sang-sik, dinilai telah memberikan dampak yang signifikan bagi pemain.
Mereka merasa telah menemukan kembali bentuk permainan terbaik setelah sempat mengalami periode yang cukup sulit.
Publik sepak bola Vietnam percaya bahwa struktur tim mereka saat ini sudah jauh lebih solid.
Kedalaman skuad yang merata di setiap lini menjadi modal utama mereka untuk menatap trofi juara.
Sejarah pertemuan kedua tim dalam beberapa tahun terakhir memang sempat memihak pada kubu Merah Putih.
Namun, pihak Vietnam menegaskan bahwa kekalahan beruntun yang terjadi sebelumnya tidak bisa menjadi acuan.
Hasil minor di ajang Piala Asia maupun kualifikasi pesta bola dunia dianggap hanyalah bagian dari masa lalu.
Mereka merasa sudah melakukan evaluasi besar-besaran untuk menutupi setiap celah yang pernah dieksploitasi oleh Indonesia.
Taktik baru yang diusung oleh Kim Sang-sik dipercaya mampu meredam daya ledak para pemain naturalisasi.
Satu poin krusial yang menjadi sorotan tajam adalah masalah sinkronisasi jadwal kompetisi internasional dengan klub.
Piala AFF 2026 rencananya akan digulirkan pada periode musim panas, tepatnya bulan Juli hingga Agustus mendatang.
Waktu pelaksanaan ini menimbulkan tanda tanya besar terkait kesediaan klub-klub Eropa melepas pemain andalan mereka.
Mengingat turnamen ini tidak masuk dalam kalender resmi FIFA, klub berhak menolak permintaan pemanggilan pemain nasional.
Celah regulasi inilah yang diprediksi akan menjadi pelemah kekuatan utama skuad asuhan John Herdman nantinya.
Ajang dua tahunan ini akan menjadi ujian perdana yang sangat berat bagi pelatih anyar Indonesia.
John Herdman yang berasal dari Inggris kini memikul beban berat untuk membawa perubahan nyata bagi tim.
Ia dituntut mampu menyatukan visi antara pemain lokal berbakat dengan para pemain diaspora yang berpengalaman.
Kombinasi taktik modern dan semangat juang tinggi diharapkan bisa menjadi jawaban atas keraguan para rival.
Target utamanya adalah menghapus label spesialis posisi kedua yang selama ini melekat pada tim nasional.
Timnas Indonesia memang memiliki catatan sejarah panjang sebagai tim yang paling sering masuk ke babak final.
Sayangnya, keberuntungan jarang memihak sehingga gelar juara masih menjadi mimpi yang belum sempat terwujud nyata.
Kini, dengan dukungan materi pemain yang lebih mumpuni, harapan publik untuk melihat trofi tersebut sangatlah besar.
Kritik dan nada sumbang dari media negara tetangga justru harus dijadikan bahan bakar motivasi tambahan.
Herdman memiliki tugas untuk membuktikan bahwa sepak bola Indonesia telah naik kelas dan layak menjadi raja.
Pertemuan antara Indonesia dan Vietnam selalu menyajikan drama dan intensitas yang sangat luar biasa di lapangan.
Kedua tim diprediksi akan saling sikut sejak fase awal kompetisi dimulai demi mengamankan posisi puncak.
Faktor mentalitas akan menjadi penentu siapa yang layak melaju lebih jauh dalam turnamen bergengsi ini.
Vietnam mungkin merasa lebih matang, namun Indonesia memiliki ambisi besar untuk membuktikan kualitas para pemainnya.
Seluruh mata pencinta sepak bola Asia Tenggara kini tertuju pada persaingan yang semakin memanas di luar lapangan.
Segala bentuk perang urat syaraf yang terjadi saat ini hanyalah bumbu penyedap sebelum kompetisi dimulai.
Kualitas yang sesungguhnya hanya akan terlihat ketika peluit pertama dibunyikan di dalam stadion yang megah.
Apakah naturalisasi akan membawa dampak instan atau justru kolektivitas Vietnam yang akan kembali berjaya.
Dukungan penuh dari suporter setia Indonesia tentu akan menjadi energi tambahan bagi para pejuang di lapangan.
Mari kita nantikan bagaimana John Herdman meramu strategi untuk membungkam keraguan media Vietnam secara elegan.