Empat pemain diaspora Indonesia sedang berjuang menyelamatkan klub masing-masing dari ancaman degradasi Eropa.
Kondisi klub yang dibela Emil Audero hingga Ole Romeny kini terjepit di zona merah.
Performa buruk klub memaksa bintang Timnas Indonesia bekerja ekstra keras demi menghindari turun kasta.
Suara.com - Kondisi kurang menguntungkan sedang menyelimuti sejumlah pemain keturunan Indonesia di Timnas Indonesia yang berkarier di benua Eropa.
Para pemain andalan Skuad Garuda ini harus memutar otak demi membawa klub mereka menjauh dari zona merah degradasi.
Meskipun tersebar di berbagai kompetisi bergengsi, tantangan berat menghadang langkah mereka di sisa musim kompetisi.
Turun kasta tentu menjadi mimpi buruk yang ingin dihindari oleh para pemain profesional di level tertinggi.
Beberapa tim saat ini memang masih memiliki peluang untuk merangkak naik ke posisi yang lebih aman.
Perjuangan Emil Audero di Kasta Tertinggi Italia
Kiper kelahiran Mataram, Emil Audero Mulyadi, saat ini tengah menjadi benteng terakhir bagi klub Cremonese.
Pemain yang datang dengan status pinjaman dari Como tersebut sedang berada dalam situasi yang sangat krusial.
Posisi Cremonese saat ini tertahan di peringkat ke-17 yang merupakan batas akhir dari zona aman klasemen.
Baca Juga: Jay Idzes Masuk 10 Besar Bek dengan Sapuan Bola Terbanyak di Liga Italia
Situasi semakin mencekam karena perolehan poin mereka sama persis dengan penghuni peringkat di bawahnya, Lecce.
Cremonese tercatat belum pernah memetik satu kemenangan pun dalam dua belas pertandingan terakhir yang mereka jalani.
Tugas Emil Audero semakin berat karena akhir pekan ini mereka harus berhadapan dengan raksasa AC Milan.
Situasi Sulit Ragnar Oratmangoen di Liga Belgia
Beralih ke kompetisi di Belgia, nasib kurang beruntung juga dialami oleh penyerang sayap Ragnar Oratmangoen.
Ragnar saat ini membela FCV Dender, sebuah tim yang dimiliki oleh tokoh politik asal Indonesia, Sihar Sitorus.
Klub ini tengah terpuruk di dasar klasemen atau peringkat ke-16 pada kompetisi kasta tertinggi Liga Belgia tersebut.
Kesenjangan poin FCV Dender cukup jauh jika dibandingkan dengan tim yang berada di posisi dua belas.
Tercatat sudah sepuluh laga mereka lalui tanpa pernah mencicipi manisnya sebuah kemenangan di lapangan hijau.
Jika tren negatif ini tidak segera dihentikan, FCV Dender dipastikan akan kembali terlempar ke kasta kedua.
Misi Penyelamatan Kevin Diks di Bundesliga Jerman
Pemain belakang Timnas Indonesia, Kevin Diks, juga tidak lepas dari tekanan besar di kompetisi Bundesliga.
Bek tangguh berusia 29 tahun ini sedang berupaya keras menjaga eksistensi Borussia Monchengladbach agar tetap bertahan.
Meskipun Monchengladbach belum masuk ke zona merah, posisi mereka saat ini masih sangat riskan di urutan ke-14.
Koleksi poin mereka hanya berselisih tipis sebanyak tiga angka dari tim penghuni zona degradasi, Werder Bremen.
Kevin Diks dituntut tampil maksimal di setiap laga untuk menjauhkan tim dari kejaran lawan di bawahnya.
Konsistensi lini pertahanan menjadi kunci utama bagi Kevin Diks dalam menghadapi gempuran penyerang lawan di Jerman.
Pertarungan di papan bawah Bundesliga diprediksi akan berlangsung sengit hingga pekan-pekan terakhir musim ini berlangsung.
Oxford United dan Tantangan Besar Ole Romeny
Kabar dari kompetisi kasta kedua Liga Inggris memperlihatkan perjuangan striker Timnas Indonesia, Ole Romeny, bersama timnya.
Ole Romeny kembali dipercaya tampil untuk membela Oxford United yang merupakan klub milik Erick Thohir.
Sayangnya performa The Yellows sedang mengalami penurunan tajam hingga terjebak di posisi kedua dari bawah.
Peringkat ke-23 yang dihuni Oxford United saat ini membuat mereka sangat rentan terdegradasi ke divisi ketiga.
Jarak lima poin masih menjadi penghalang bagi mereka untuk bisa mencapai zona aman di posisi ke-21.
Skuad asuhan Matt Bloomfield tersebut sudah melewati enam laga berturut-turut tanpa berhasil meraih poin penuh sama sekali.
Evaluasi Performa Pemain Diaspora di Luar Negeri
Fenomena ini menjadi perhatian besar bagi para pecinta sepak bola di tanah air yang memantau pemain abroad.
Pengalaman bertarung di bawah tekanan zona degradasi diharapkan bisa membentuk mentalitas yang lebih kuat bagi mereka.
Diharapkan para pemain ini mampu memberikan kontribusi maksimal agar tetap bisa berkompetisi di level elit Eropa.
Masa depan karier mereka di klub masing-masing tentu sangat bergantung pada hasil akhir di penghujung musim.
Dukungan dari suporter Indonesia terus mengalir agar para pemain diaspora ini bisa membawa timnya bangkit.
Setiap menit bermain di liga top dunia sangat berharga untuk peningkatan kualitas individu pemain Timnas Indonesia.