-
PSIM Yogyakarta memperpanjang rekor gagal menang dalam lima pertandingan terakhir di Liga.
-
Pelatih Jean-Paul van Gastel fokus pada target realistis mengamankan posisi dari ancaman degradasi.
-
Manajemen PSIM hanya mendatangkan Jop van der Avert untuk memperkuat lini pertahanan tim.
Suara.com - Stadion Sultan Agung menjadi saksi bisu kegagalan PSIM Yogyakarta meraih poin penuh saat menjamu tim tamu.
Laskar Mataram harus rela berbagi satu poin setelah laga sengit melawan Bali United berakhir imbang.
Skor akhir 3-3 yang menghiasi papan skor memperpanjang catatan kurang memuaskan bagi klub kebanggaan Yogyakarta.
Hingga pekan ke-22 BRI Super League 2025/2026, kemenangan masih menjadi hal yang langka bagi mereka.
Hasil imbang ini sekaligus menandai kegagalan kelima secara beruntun bagi tim asuhan Jean-Paul van Gastel.
Krisis kemenangan ini dimulai sejak kekalahan telak dari tim asal Surabaya dan klub asal Samarinda.
Sebelumnya, PSIM dipaksa menyerah dengan skor 0-3 saat menghadapi Persebaya Surabaya di laga tandang.
Langkah mereka kembali terhenti ketika ditekuk tipis oleh Borneo FC dengan kedudukan akhir 1-2.
Upaya bangkit saat melawan Persis Solo dan Persik Kediri pun hanya membuahkan hasil imbang bagi tim.
Baca Juga: Pesta Gol di Bandarlampung, Paul Munster Puji Konsistensi Bhayangkara FC Tekuk Telak Semen Padang
Kondisi ini membuat para pendukung setia Laskar Mataram mulai mempertanyakan konsistensi performa skuad di lapangan.
Menanggapi situasi sulit ini, sang nahkoda asal Belanda memberikan penjelasan mendalam mengenai kondisi internal timnya.
"Memang kami tidak menang dalam lima pertandingan, tapi saya pikir mudah untuk mengatakan di mana masalahnya karena setiap pertandingan memiliki konteks yang berbeda," ujar pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel.
Keterbatasan pemain di lini belakang sempat membuat sang pelatih melakukan eksperimen posisi yang cukup berisiko.
Rakhmatsho Rakhmatzoda dan Rio Hardiawan terpaksa diplot sebagai bek tengah meskipun itu bukan posisi natural mereka.
Van Gastel juga menyoroti bagaimana timnya seringkali kehilangan fokus pada menit-menit akhir pertandingan yang krusial.
Meskipun gagal menang, Van Gastel mencoba melihat sisi positif dari perjuangan anak asuhnya di setiap laga.
Eks pelatih NAC Breda tersebut menegaskan bahwa prioritas tim saat ini adalah menjaga stabilitas di papan klasemen.
Saat ini PSIM masih tertahan di posisi ketujuh dengan mengoleksi total 33 poin dari 22 laga.
Pelatih berusia 53 tahun itu mengakui bahwa ada kendala mendasar yang menyelimuti permainan timnya saat ini.
"Saya pikir tim saya sudah tampil cukup baik. Meskipun kami memiliki beberapa masalah struktural, tetapi itu tugas saya untuk memperbaikinya," sebut pelatih berusia 53 tahun itu.
Ia berkomitmen untuk terus mengevaluasi setiap detail kekurangan sebelum memasuki pekan-pekan krusial di sisa musim.
Kemenangan sangat dibutuhkan agar atmosfer dalam ruang ganti menjadi lebih positif bagi para penggawa klub.
Sektor anggaran belanja pemain juga menjadi variabel yang memengaruhi kekuatan skuad PSIM pada putaran kedua ini.
Van Gastel memahami bahwa rival-rival mereka di BRI Super League melakukan penguatan skuad secara signifikan dan masif.
Kehadiran bek asal Belanda, Jop van der Avert, menjadi satu-satunya suntikan tenaga baru di barisan pertahanan.
Meskipun terbatas, manajemen berusaha memberikan dukungan terbaik demi menjaga daya saing tim di kasta tertinggi Indonesia.
Kekuatan tim-tim lawan yang semakin solid menjadi hambatan nyata bagi PSIM untuk segera memutus tren negatif.
"Sejauh ini, saya tidak akan mengatakan kami kesulitan tapi memang sulit bagi kami untuk menang," pungkasnya.
Franco Ramos dan rekan-rekan kini dituntut untuk segera menemukan formula kemenangan guna menjauh dari bayang-bayang papan bawah.
Ujian berikutnya akan menjadi pembuktian apakah masalah struktural yang disebut pelatih mampu diatasi dengan cepat.
Kini publik Yogyakarta menantikan kebangkitan tim kesayangannya agar tetap bisa bersaing di papan atas klasemen liga.
Dukungan penuh dari suporter diharapkan mampu menjadi energi tambahan bagi para pemain di setiap laga kandang.