-
Serangan militer Amerika Serikat ke Iran mengancam keberlangsungan Grup G di Piala Dunia.
-
FIFA mempertimbangkan Uni Emirat Arab atau Irak sebagai pengganti jika Iran batal bertanding.
-
Sekjen FIFA menjamin keamanan seluruh peserta meski tensi politik di Amerika Utara sedang memanas.
Suara.com - Dunia olahraga internasional kini sedang dibayangi oleh awan gelap akibat konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan geopolitik ini menjadi latar belakang yang sangat tidak nyaman menjelang perhelatan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
Hubungan diplomatik kedua negara terus merosot tajam apalagi Iran termasuk dalam daftar larangan perjalanan yang diterapkan pemerintahan Trump.
Meski staf dan pemain tim nasional mendapat pengecualian namun kendala visa sempat membuat pejabat Iran mengancam boikot.
Awalnya mereka berniat absen dalam pengundian grup di Washington D.C sebelum akhirnya membatalkan rencana boikot tersebut.
Situasi semakin tidak menentu setelah Gedung Putih mengumumkan dimulainya operasi tempur besar-besaran terhadap wilayah kedaulatan Iran.
Amerika Serikat menggandeng Israel dalam operasi militer gabungan yang menargetkan berbagai lokasi strategis termasuk wilayah ibu kota Tehran.
Donald Trump yang sebelumnya meraih penghargaan perdamaian perdana dari FIFA kini menegaskan niatnya untuk menghancurkan kekuatan militer lawan.
Pihak Iran langsung merespons dengan meluncurkan serangan balasan ke berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Baca Juga: Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
Serangan balasan tersebut mencakup wilayah Israel hingga markas AS di Qatar, Kuwait, UEA, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Bahrain.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran besar bahwa Iran tidak akan bisa berpartisipasi dalam ajang sepak bola bergengsi musim panas ini.
Padahal Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah utama dengan menggelar 78 dari total 104 pertandingan di 11 kota berbeda.
Dikutip dari Sport Bible, Iran sendiri telah memastikan tiket putaran final sejak Maret lalu setelah tampil perkasa sebagai juara Grup A zona Asia.
Keberhasilan tersebut menandai partisipasi ketujuh kalinya bagi tim nasional Iran dalam sejarah panjang turnamen Piala Dunia.
Berdasarkan hasil undian Iran berada di Grup G yang dihuni oleh tim kuat Belgia, Mesir, serta wakil Oseania Selandia Baru.
Seluruh jadwal pertandingan Iran dalam fase grup ini rencananya akan dilangsungkan sepenuhnya di atas tanah Amerika Serikat.
Dunia kini menanti kepastian apakah konflik senjata ini akan memutus harapan para pemain Iran untuk berlaga di lapangan hijau.
FIFA sebenarnya telah memiliki protokol resmi jika ada negara peserta yang memutuskan mundur atau terpaksa dilarang bertanding.
Regulasi FIFA menyebutkan bahwa tim yang bermasalah akan digantikan oleh tim alternatif yang memiliki kualifikasi terbaik dari konfederasi yang sama.
Dalam konteks ini Uni Emirat Arab atau UEA menjadi kandidat terkuat yang bisa mendapatkan keuntungan dari situasi sulit Iran.
UEA tercatat sebagai tim dengan peringkat tertinggi di kualifikasi Asia yang sebelumnya belum berhasil lolos secara langsung.
Sebelumnya langkah UEA dihentikan oleh Irak dalam babak play-off zona kontinental dengan skor agregat tipis 3-2.
Irak sendiri saat ini sedang bersiap menghadapi babak play-off antarbenua melawan tim dari Amerika Selatan atau Karibia pada akhir Maret.
Opsi lain yang muncul adalah memberikan slot langsung Iran kepada Irak dan menggeser posisi UEA ke babak play-off interkontinental.
Hingga saat ini badan sepak bola dunia tersebut belum mengeluarkan keputusan final terkait status kepesertaan Iran di Amerika Utara.
Mattias Grafstrom selaku Sekretaris Jenderal FIFA menyatakan bahwa pihaknya terus memantau setiap perkembangan yang terjadi di Timur Tengah.
Beliau menambahkan bahwa diskusi mendalam belum dilakukan namun pengawasan terhadap isu-isu global tetap menjadi prioritas utama organisasi.
Fokus utama FIFA saat ini adalah menjamin bahwa seluruh tim yang telah ikut dalam pengundian di Washington bisa bertanding dengan aman.
Komunikasi intensif dengan tiga pemerintah tuan rumah akan terus dijalankan guna memastikan stabilitas keamanan selama turnamen berlangsung.