- Calvin Verdonk sukses membuktikan diri sebagai pemain serbabisa dengan memainkan lima posisi berbeda sejak melakoni debutnya di Timnas Indonesia.
- Bermula sebagai bek di era STY, Verdonk berevolusi menjadi gelandang bertahan era Kluivert, dan kini jadi pengatur serangan di era Herdman.
- Pelatih John Herdman memuji kecerdasan taktik Verdonk yang juga tampil sangat apik membawa klub Lille bersaing di papan atas Liga Prancis.
Suara.com - Transformasi posisi luar biasa tengah dialami oleh penggawa Timnas Indonesia, Calvin Verdonk, yang kini menjelma menjadi pemain paling serbabisa di bawah arahan pelatih John Herdman.
Evolusi permainan bintang klub Lille tersebut membuktikan kualitasnya yang mampu menempati lima posisi berbeda sejak debut bersama skuad Garuda.
Perjalanan kariernya di level internasional merekam jejak fantastis mulai dari peran kokoh di lini belakang hingga kini dipercaya menjadi pengatur serangan andalan pada ajang FIFA Series 2026.
Berdasarkan catatan statistik penampilannya, pemain keturunan Aceh ini telah membukukan total 14 penampilan resmi sejak pertama kali berseragam Merah Putih.
Pada era kepemimpinan pelatih sebelumnya yakni Shin Tae-yong, ia lebih difokuskan sebagai tembok kokoh dengan mengisi pos bek tengah kiri dalam skema tiga bek sejajar maupun sebagai wingback kiri.
Laga berat melawan Arab Saudi, Australia, hingga Jepang pada tahun lalu menjadi bukti sahih ketangguhannya saat ditugaskan menjaga area pertahanan.
Perubahan posisinya mulai terlihat nyata ketika tongkat kepelatihan beralih ke tangan Patrick Kluivert yang menariknya lebih ke tengah untuk menjadi seorang gelandang bertahan.
Peran krusial sebagai pemutus serangan lawan tersebut ia jalankan dengan sangat apik saat tim nasional bertanding melawan Lebanon, Irak, hingga laga kontra Saint Kitts and Nevis baru-baru ini.
Kini, di bawah komando pelatih baru John Herdman, transformasi sang pemain semakin radikal dengan mengemban tugas sebagai gelandang serang.
Puncak inovasi taktik ini terlihat jelas pada partai final FIFA Series 2026 melawan Bulgaria.
Dalam pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Senin (30/3/2026), ia diplot mengisi satu dari dua pos gelandang serang dalam formasi 3-4-3.
Meski timnya harus menelan kekalahan tipis 0-1, performa brilian sang pemain yang memerankan "nomor 10" tetap mendapatkan apresiasi setinggi langit.
"Penampilannya malam ini luar biasa. Dia pemain yang komplet. Ia punya kecerdasan taktik, kecepatan, stamina, akselerasi, dan visi umpan yang baik," kata John Herdman pada jumpa pers setelah pertandingan usai.
Sang juru taktik asal Inggris itu meyakini bahwa atribut teknis yang dimiliki pemainnya tersebut sangat krusial bagi strategi permainan tim pada masa mendatang.
"Dan saya pikir Calvin akan menjadi bagian besar dari masa depan tim ini dalam mengontrol tempo di lini tengah," ucap Herdman saat menilai kualitas Verdonk.
"Saya bangga dengan Calvin. Dia bermain di level tertinggi malam ini. Dia pantas mendapatkan lebih," kata dia.
Menyikapi bongkar pasang posisi ekstrem yang dialaminya, sang pemain sendiri mengaku sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal tersebut.
"Saya bermain di posisi mana pun pelatih menempatkan saya. Entah itu, gelandang, atau bek sayap, bek tengah. Hari ini juga nomor 10. Saya akan bermain di posisi mana pun yang pelatih mau dan itu tidak masalah," kata Verdonk di mixed zone SUGBK.
Kematangan taktik sang pemain saat membela negara tentu berbanding lurus dengan jam terbang tinggi yang ia dapatkan di benua Eropa pada musim ini.
Ia tercatat sudah tampil sebanyak 21 kali di berbagai kompetisi elit, termasuk 13 penampilan di Liga Prancis dan tujuh laga di ajang Liga Europa.
Kontribusi nyatanya berhasil membawa klubnya bertengger di peringkat kelima klasemen liga domestik dengan 47 poin sekaligus melaju ke babak 16 besar Liga Europa.