-
Kurniawan Dwi Yulianto bertanggung jawab penuh atas kekalahan Timnas Indonesia U-17 melawan Malaysia.
-
Evaluasi fokus pada antisipasi bola mati dan ketajaman lini serang Garuda Asia.
-
Publik diminta menjaga mental pemain muda demi perkembangan karier jangka panjang mereka.
"Kemudian banyak peluang juga dan ini menjadi bahan evaluasi juga ke depannya," tegasnya.
Kehadiran suporter di tribun diharapkan tetap menjadi energi positif bagi para pemain dan bukan justru berubah menjadi beban berat.
Kurniawan berharap proses tumbuh kembang pemain tidak terhambat oleh sentimen negatif yang muncul setelah satu hasil pertandingan yang buruk.
"Saya tetap menghargai kerja keras pemain dan saya mohon kita tetap support adik-adik kita ini karena mereka masih di bawah 17 tahun," tegasnya.
Dukungan moral yang stabil dianggap jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir dalam konteks turnamen kelompok umur seperti ini.
"Saya tidak mau kekalahan ini akhirnya menjatuhkan mental mereka karena usia tumbuh kembang ini masih sensitif," pungkasnya.
Persiapan Menghadapi Laga Penentuan
Skuad Garuda Asia kini dipaksa segera melupakan kepedihan dari rival serumpun dan beralih fokus total ke pertandingan pamungkas.
Laga melawan Vietnam pada 19 April mendatang akan menjadi penentu hidup dan mati bagi ambisi Indonesia di turnamen ini.
- Kurniawan Dwi Yulianto: Saya Mohon Maaf
Baca Juga
Staf pelatih berencana melakukan rotasi atau perubahan skema guna mempertajam daya dobrak demi mengamankan kemenangan mutlak.
Kemenangan atas Vietnam merupakan harga mati meskipun kelolosan Indonesia juga masih bergantung pada hasil laga tim lain di Grup A.
Para pemain diharapkan mampu menunjukkan karakter juara dan bangkit dari keterpurukan dalam waktu yang sangat singkat tersebut.
Timnas Indonesia U-17 memulai kompetisi Piala AFF U-17 2026 sebagai salah satu kandidat kuat juara mengingat status sebagai tuan rumah.
Laga melawan Malaysia merupakan partai kedua di Grup A yang seharusnya menjadi jembatan pengaman untuk melaju ke fase semifinal.
Stadion Gelora Joko Samudro menjadi saksi bisu perjuangan keras namun kurang beruntung dari tim yang dipimpin oleh Kurniawan Dwi Yulianto.