- Pengamat Kesit Budi Handoyo menilai persaingan Super League musim ini sangat kompetitif dan berjalan sengit hingga pekan terakhir.
- Masalah utama kompetisi adalah banyaknya tim musafir akibat ketidakjelasan stadion kandang yang belum memenuhi standar infrastruktur liga.
- Kebijakan toleransi PSSI dan operator liga dinilai menghambat profesionalisme serta berdampak negatif pada performa dan finansial klub.
Suara.com - Persaingan Super League musim ini mendapat apresiasi dari pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo. Meski begitu, fenomena masih banyaknya "tim musafir" seakan mencoreng peningkatan kualitas liga.
Ia menilai kompetisi berjalan ketat hingga pekan terakhir dan persaingan juara, termasuk antara Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda, masih terbuka.
Namun, di balik ketatnya persaingan, ia menyoroti persoalan yang belum tuntas, yakni ketidakjelasan stadion kandang sejumlah klub.
Kondisi ini membuat beberapa tim harus menjalani laga “musafir” atau berpindah-pindah tempat.
“Kualitas persaingan musim ini sangat kompetitif dan atmosfernya bagus,” kata Kesit kepada Suara.com.
Kompromi yang Dinilai Berlebihan

Kesit menyebut masalah ini terjadi karena masih adanya toleransi dari PSSI dan I.League terhadap klub yang belum memenuhi standar infrastruktur.
Menurutnya, kebijakan tersebut justru memperpanjang persoalan.
Ia mencontohkan kasus Persija Jakarta yang sempat harus menggelar laga kandang di luar kota.
Kondisi serupa juga dialami sejumlah klub lain karena stadion mereka belum memenuhi standar operator liga.
“Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi. Klub dari satu kota idealnya bermain di kotanya sendiri,” ujarnya.
Kesit menilai operator kompetisi sebenarnya sudah mengetahui kondisi infrastruktur klub, terutama tim promosi.
Karena itu, ia mendorong adanya penegasan aturan tanpa kompromi berlebihan.
Dampak ke Performa dan Pendapatan
Menurutnya, ketidakpastian stadion kandang tidak hanya memengaruhi performa tim, tetapi juga aspek finansial klub.