- Federasi Sepak Bola Iran memprotes FIFA karena merasa diperlakukan tidak adil selama turnamen Piala Dunia 2026.
- Kebijakan pembatasan perjalanan dan masalah visa di Amerika Serikat mengganggu pemulihan fisik serta persiapan tim Iran.
- Timnas Iran yang bermarkas di Tijuana harus menempuh perjalanan melelahkan menuju lokasi pertandingan di Amerika Serikat.
Meski demikian, pihak Iran menilai FIFA seharusnya dapat memberikan fleksibilitas khusus mengingat kondisi yang mereka hadapi berbeda dibanding peserta lainnya.
Menurut Federasi Iran, kesempatan untuk tiba lebih awal yang lazim diberikan dalam situasi tertentu justru tidak mereka peroleh selama turnamen berlangsung.
Kendala Visa Perburuk Situasi
Masalah Iran tidak berhenti pada urusan perjalanan. Sejumlah ofisial dan staf pendukung juga dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat.
Bahkan, pemain Mehdi Torabi sempat harus mendatangi Konsulat Amerika Serikat di Tijuana guna memperbarui dokumen perjalanannya.
Situasi tersebut terjadi meski hubungan diplomatik kedua negara disebut mulai menunjukkan perbaikan setelah adanya kesepakatan gencatan senjata sementara.
Setelah menghadapi Belgia akhir pekan ini, Iran dijadwalkan terbang ke Seattle untuk menjalani laga terakhir Grup A melawan Mesir pada 26 Juni.
Publik sepak bola dunia kini menanti respons resmi FIFA atas tuduhan diskriminasi logistik yang dilontarkan Iran. Kasus ini berpotensi memicu perdebatan lebih luas mengenai kesetaraan perlakuan terhadap seluruh peserta di Piala Dunia 2026.
Timnas Iran menjalani Piala Dunia 2026 dalam situasi yang tidak biasa. Demi alasan keamanan geopolitik, markas latihan mereka dipindahkan ke Tijuana, Meksiko. Kebijakan tersebut memaksa para pemain melakukan perjalanan internasional setiap kali bertanding di Amerika Serikat.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai netralitas penyelenggara dalam memberikan fasilitas dan perlakuan yang setara kepada seluruh peserta, terlepas dari situasi politik yang berkembang di luar lapangan.
