-
Timnas Jepang membawa modal kepercayaan diri tinggi untuk menghadapi Brasil di babak gugur Piala Dunia.
-
Komposisi pemain Jepang kini bertransformasi total dengan dominasi para bintang yang merumput di Eropa.
-
Kemenangan uji coba pada Oktober lalu menjadi modal penting Jepang untuk membalas kekalahan tahun 2006.
Suara.com - Timnas Jepang mengusung rasa percaya diri tinggi untuk menumbangkan Brasil pada babak gugur Piala Dunia 2026. Skuad berjuluk Samurai Blue ini tidak lagi gentar menghadapi reputasi besar sang lawan di panggung internasional.
Pertemuan ini menjadi momentum pembalasan setelah 2 dekade lalu Jepang menelan kekalahan menyakitkan dari lawan yang sama. Kini, peta kekuatan telah bergeser secara drastis menguntungkan wakil Asia tersebut.
Transformasi radikal terlihat jelas pada komposisi pemain Jepang yang kini didominasi oleh talenta-talenta liga top Eropa. Kondisi ini sangat kontras dengan situasi masa lalu ketika mayoritas pilar mereka hanya berkompetisi di liga domestik.

Presiden Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), Tsuneyasu Miyamoto, menegaskan kesiapan mental anak asuh Hajime Moriyasu menjelang laga krusial ini.
"Para pemain [dan seluruh] tim memiliki kepercayaan diri, bahkan saat bermain melawan Brasil," kata Tsuneyasu Miyamoto dikutip dari ESPN, Senin (29/6/2026).
Keyakinan ini membuktikan bahwa Jepang tidak memedulikan status besar Brasil yang akan menjadi rintangan pertama mereka di fase krusial. Duel ini dinilai setara beratnya dengan potensi menghadapi Maroko yang sempat menahan imbang Brasil di fase grup.
![Timnas Jepang membidik perempat final Piala Dunia 2026 dengan taktik tiga bek ala Hajime Moriyasu. Meski dihantam cedera, Samurai Blue tetap optimistis. [Dok. JFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/23304-timnas-jepang.jpg)
Langkah berani Jepang didasari oleh target besar mereka untuk membawa pulang trofi Piala Dunia musim panas ini. Manajemen tim meyakini bahwa mengalahkan tim raksasa seperti Brasil merupakan syarat mutlak yang harus dilewati.
Kondisi internal tim tetap solid meskipun mereka kehilangan pilar penting seperti Kaoru Mitoma, Wataru Endo, dan Takumi Minamino akibat cedera. Kedalaman skuad terbukti merata dengan kehadiran para pemain dari Premier League, LaLiga, Serie A, hingga Bundesliga.
Ketajaman lini serang Jepang juga diperkuat oleh Ayase Ueda yang tampil gemilang di kompetisi Belanda bersama Feyenoord. Striker tajam tersebut sukses menyabet gelar pencetak gol terbanyak setelah mengemas total 25 gol musim lalu.
Di sisi domestik, Jepang hanya menyisakan 3 pemain J.League termasuk kiper cadangan Keisuke Osako dan Tomoki Hayakawa. Satu nama lokal lainnya adalah bek veteran Yuto Nagatomo yang sarat pengalaman selama 7 musim di Inter Milan.
Sebaliknya, kubu Brasil datang dengan kekuatan yang dinilai tidak lagi sekeramat generasi emas mereka di masa lampau. Skuad Selecao kini bertumpu pada Vinicius Junior di tengah penurunan kondisi kebugaran Raphinha pasca-musim padat di Barcelona.
Meskipun Neymar masih berada di dalam tim pada usia 34 tahun, reputasi menakutkan Brasil perlahan mulai bisa diimbangi. Jepang bahkan mengantongi modal psikologis penting berkat kemenangan 3-2 atas Brasil pada laga uji coba Oktober lalu.
Kemenangan bersejarah itu diraih lewat perjuangan luar biasa setelah tertinggal 2 gol terlebih dahulu pada babak pertama. Keberhasilan menundukkan skuad utama Brasil tersebut memutus rantai inferioritas yang membayangi Jepang selama bertahun-tahun.
Konteks rivalitas kedua negara bermula pada 22 Juni 2006 saat mereka bersua di Dortmund dalam ajang Piala Dunia Jerman. Saat itu, Brasil yang dihuni Ronaldo, Ronaldinho, dan Kaka berhasil mencukur Jepang dengan skor telak 4-1.
Waktu itu Jepang baru tampil pada Piala Dunia ketiga mereka, sementara Brasil berstatus sebagai juara bertahan 5 kali. Kesenjangan kualitas begitu mencolok karena raksasa Amerika Selatan tersebut diperkuat para bintang Real Madrid dan AC Milan.
Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, kota Houston akan menjadi saksi seberapa jauh perkembangan sepak bola Jepang. Skuad Samurai Blue siap membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim semenjana yang mudah ditundukkan.
