- Teknik penalti jeda langkah mengalami penurunan efektivitas pada Piala Dunia 2026 dengan tingkat keberhasilan di bawah lima puluh persen.
- Profesor Geir Jordet menyebut penjaga gawang kini lebih mampu mengantisipasi pola eksekusi tersebut melalui analisis dan gerakan tipuan.
- Persaingan kiper dan penendang terus berkembang sehingga pemain perlu memadukan berbagai teknik agar tetap sulit diprediksi lawan.
"Ini seperti perlombaan senjata. Siapa yang mampu beradaptasi lebih cepat akan memiliki keuntungan. Sejak awal Piala Dunia ini, saya melihat para kiper selangkah lebih unggul," katanya.
Meski demikian, Jordet menilai teknik stutter belum akan ditinggalkan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan penalti tetap bergantung pada kemampuan penendang menjaga unsur kejutan.
"Yang terpenting adalah menjadi pemain yang sulit diprediksi sehingga kiper tidak mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya," ujarnya.
Jordet menilai sejumlah pemain, seperti Mikel Oyarzabal dan Kylian Mbappe, mampu memadukan berbagai teknik eksekusi penalti sehingga sulit dibaca lawan.
Ia memperkirakan inovasi dalam teknik penalti masih akan terus berkembang sepanjang Piala Dunia 2026 seiring cepatnya penyebaran informasi dan adaptasi para pemain maupun penjaga gawang.
"Perkembangan taktik berlangsung sangat cepat. Saya yakin kita masih akan melihat perubahan selama turnamen ini berlangsung. Itulah salah satu hal yang membuat Piala Dunia selalu menarik," kata Jordet.
