-
Stale Solbakken mengklarifikasi video ruang ganti yang dianggap tidak menghormati pelatih Brasil, Carlo Ancelotti.
-
Norwegia berambisi mempertahankan rekor sejarah tidak terkalahkan melawan Brasil pada babak 16 besar.
-
Tim nasional Norwegia telah merancang strategi khusus termasuk menyiapkan lima eksekutor penalti utama.
Suara.com - Pelatih Norwegia Stale Solbakken menegaskan tidak ada maksud melecehkan juru taktik Brasil Carlo Ancelotti menjelang duel babak 16 besar Piala Dunia 2026. Pernyataan tegas ini merespons kegaduhan video internal tim saat ia meneriakkan kesiapan menantang Ancelotti.
Solbakken mengklarifikasi bahwa seruan emosional pasca-kemenangan dramatis atas Pantai Gading murni merupakan bentuk antusiasme tinggi. Alih-alih meremehkan, ia justru memandang laga di New Jersey ini sebagai pembuktian taktik tingkat tinggi.
"Itu hanya untuk memuji dia [Ancelotti] karena dia adalah salah satu pelatih terhebat di sepak bola Eropa," ujar Solbakken saat dimintai klarifikasi mengenai ucapannya.
![10 Pelatih Piala Dunia 2026 dengan Gaji Selangit: Ancelotti Termahal, Scaloni Tak Masuk [Tangkap lyar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/19/64610-carlo-ancelotti.jpg)
"Dia mungkin yang terhebat dengan lima trofi Liga Champions dan gelar juara di berbagai negara."
Solbakken menambahkan bahwa reputasi besar sang lawan justru menjadi bahan bakar motivasi bagi anak asuhnya. Sikap profesional arsitek tim Samba tersebut dinilai menjadi teladan terbaik di jagat sepak bola modern.
"Cara dia memperlakukan lawan, cara dia bertindak dalam sepak bola adalah sesuatu yang harus ditiru oleh semua orang."
"Sangat bagus juga bagi sepak bola bahwa dia mengambil pekerjaan internasional bersama tim internasional terbesar di dunia sepak bola."
Norwegia kini mengusung misi mustahil untuk memperpanjang rekor superior mereka yang belum pernah kalah dari pemilik lima gelar Piala Dunia itu. Kendati demikian, Solbakken sadar posisi timnya tetaplah kuda hitam yang harus tampil tanpa cela.
"Ini adalah kehormatan besar bagi kami, tetapi besok kami harus mengalahkan dia dan mengalahkan Brasil untuk tetap bertahan di kompetisi."
"Kami bisa mengalahkan Brasil jika kami tampil 100%, jika tidak, kami tidak punya peluang," tutur Solbakken dengan realistis.
Sang pelatih melihat peta kekuatan tim lawan kini sudah jauh lebih dinamis dan tidak se-dominan era sebelumnya. Celah tersebut yang akan dimanfaatkan untuk menciptakan kejutan besar di fase gugur.
"Brasil masih menjadi favorit, tetapi saya rasa mereka bukan favorit besar seperti tahun-tahun lalu."
"Namun ya, akan menjadi kejutan jika Norwegia menang. Tim ini mendapatkan hasil yang bagus dan gaya bermain kami juga membantu, tetapi sulit untuk mengatakan persentase peluang kami."
Solbakken menekankan pertahanan kolektif menjadi kunci utama untuk meredam kreativitas individu para bintang Seleção. Kolektivitas tim dianggap jauh lebih ampuh ketimbang hanya menjaga satu atau dua pemain bintang saja.
"Brasil memiliki banyak pemain bagus, kita harus menghentikan pemain-pemain individu tersebut, tetapi pertama-tama kita harus menghentikan Brasil sebagai sebuah tim."
Skenario drama adu penalti juga telah diantisipasi secara matang oleh tim kepelatihan Norwegia demi tiket perempat final. Mengingat sengitnya fase gugur tahun ini, kesiapan mental eksekutor menjadi fokus yang tidak boleh diabaikan.
"Kemenangan kami pada tahun 1998 sangat berarti bagi sepak bola Norwegia untuk waktu yang lama, tetapi kami harus ingat bahwa Brasil saat itu sudah lolos dan tidak mengejar apa pun."
"Namun ini adalah pertandingan sistem gugur dan kedua tim harus menang untuk bisa lolos."
Seluruh pemain kini sudah memegang peran dan urutan masing-masing jika laga harus diselesaikan lewat titik putih. Langkah preventif ini diambil agar tidak ada kepanikan saat momen krusial itu tiba.
"Kami telah bersiap dengan baik untuk adu penalti," ucapnya memungkasi.
"Para pemain tahu siapa yang akan menembak 1, 2, 3, 4, dan 5. Kami telah bersiap dengan baik."
Ketegangan ini bermula saat Norwegia mengunci tiket 16 besar berkat gol penentu Erling Haaland pada menit ke-86 melawan Pantai Gading di Dallas. Di dalam ruang ganti, Solbakken yang emosional berteriak, "Ancelotti, kami datang untukmu!" hingga memicu perdebatan panas di media menjelang laga krusial ini.
