Amalan Hari Jumat, Makna Budaya Kerja Menurut Islam Bukan Seremoni Saja, Umat Muslim Harus Pahami Ini

Suara Cianjur Suara.Com
Jum'at, 16 September 2022 | 08:10 WIB
Amalan Hari Jumat, Makna Budaya Kerja Menurut Islam Bukan Seremoni Saja, Umat Muslim Harus Pahami Ini
Ilustrasi orang yang mencintai pekerjaanya (Freepik/Rawpixel.com) (Foto Ilustrasi sedang kerja / freepik)

SuaraCianjur.id- Bagi seorang muslim bekerja bukan hanya sekedar melakukan suatu amal, tapi ibadah dalam menjalankan perintah Allah SWT. Makanya Islam mengajarkan bahwa bekerja itu pada hakikatnya adalah, manifestasi amal kebaikan yang harus dilandasi niat ibadah karena Allah SWT.

Sebagai sebuah amal, niat seseorang dalam bekerja akan sangat menentukan penilaian di mata Allah Sang Pencipta.  

Dalam QS.Al-Qashash [28]:77 dijelaskan: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”

Betapa Maha Baiknya Allah Pencipta langit dan bumi yang telah memilih manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, dan menyediakan sumber daya alam yang begitu kaya untuk dikelola, sehingga kita manusia dapat melangsungkan kehidupan yang fana ini melalui aktivitas bekerja.

Budaya adalah keseluruhan gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat dengan cara belajar, yang kemudian dijadikan identitas diri manusia dan sosialnya. Adapun kerja adalah melakukan setiap amal perbuatan. Maka, budaya dan kerja jika digabungkan adalah nilai-nilai sosial, atau suatu keseluruhan pola perilaku yang berkaitan dengan akal dan budi manusia dalam melakukan suatu pekerjaan.

Budaya kerja setiap individu atau kelompok itu tergantung pada lingkungan sosialnya. Seperti yang diungkapkan Mc Gregor, dalam sudut pandang manajemen SDM, budaya kerja sangat terikat dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan diantara faktor kuat yang dapat mempengaruhinya itu adalah faktor kepemimpinan. Dalam lingkup organisasi instansi misalnya, para pemimpin yang mewakili budaya instansi akan menentukan nilai-nilai budaya yang tercipta.

Budaya organisasi instansi yang mengandung nilai-nilai Islam akan mendahulukan pembinaan terhadap keimanan, keislaman, dan ke-ihsan-an. Selanjutnya, substansi pada setiap budaya kerja akan terekspresi dalam ritual-ritual seremoni. Substansi agamawi pada ritual-ritual seremoni seyogyanya mengekspresikan nilai-nilai iman, islam dan ihsan tadi. Jika nilai-nilai tersebut diciptakan, maka setiap individu tidak akan mudah terpancing dan tergelincir pada hal-hal yang menyebabkan terjadinya pelanggaran yang dimurkai Sang Pencipta.

Menjadi Manusia Beradab

Akademisi dan Ustadz Moch. Fadlani Salam [Foto Istimewa - Dok Pribadi]
Akademisi dan Ustadz Moch. Fadlani Salam (sumber: Foto Istimewa - Dok Pribadi)

Islam menuntun agar setiap Individu menjadi manusia yang ihsan. Maksudnya adalah penyempurna dari keimanan dan keislaman seseorang. Manusia yang ihsan adalah manusia yang beradab secara internal dan eksternal.

Adab internal yaitu akhlaq terhadap dirinya sendiri, dan adab eksternal yaitu akhlaq terhadap segala sesuatu yang ada pada luar dirinya. Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan dalam Ihya ‘Ulumid-diin, bahwa yang dimaksud dengan akhlaq adalah: “Ibaarotun ‘an hai’atinn fii an-nafsi roosikhatin ‘anhaa tashduru al-‘af’aalu bisuhuulatin wa yusrin min ghairi haajatin ilaa fikrin wa rowiyyatin”. 

Baca Juga: PPATK Deteksi Ada Dana Judi Online Masuk ke Rekening Oknum Polisi, Ini yang Dilakukan Mabes Polri?

Artinya, akhlaq adalah sebuah gambaran tentang suatu bentuk yang melekat/mengakar dalam jiwa, dan terlahir darinya berbagai perbuatan dengan keadaan refleks dan spontan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang sulit.

Ekspresi setiap ritual seremoni yang sudah merupakan bagian dari budaya kerja ini lebih erat kaitannya dengan adab eksternal (akhlak lingkungan) setiap individu. Adab eksternal seseorang tidak akan pernah mencapai substansinya selama akhlaq internalnya masih diabaikan, sehingga dirinya selalu terperangkap dalam kepura-puraan, ketidakjujuran, keangkuhan, dan sikap-sikap tercela lainnya.

Hal ini bisa berdampak pada budaya konflik antar sesama, saling melemahkan dan menjatuhkan kepada yang bukan kelompok kerjanya, fisiknya terlihat berjama'ah, namun hatinya berpecah belah, dalam istilah qur'an disinggung, tahsabuhum jamii'an wa qulu uhun syattaa (QS.59:14).

Maka dari itu, apabila ekspresi nilai-nilai iman, Islam, dan ihsan ini masih sulit kita rasakan di hati dan pikiran, berbanding terbalik dari apa yang nampak oleh kasat mata, ini patut menjadi muhasabah bagi para stakeholder dalam organisasi. Padahal dari satu ritual seremoni ke seremoni lainnya kita sudah giat berpartisipasi, mengikuti dan melaksanakannya, namun belum bisa termanifestasi menjadi ihsan dalam bingkai adab (akhlaqul mahmudah).

Sahabat Umar bin Khathab ra pernah memberi nasehat kepada umat dengan nasehat yang populer di kalangan umat Muslim: “haasibuu “anfusakum qobla ‘an tuhaasabuu”, Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT.

Jika deretan kegiatan ritual seremoni ini tidak sampai membawa seseorang pada adab internal yang baik bagi dirinya sendiri, khawatir ini akan menjadi kamuflase terhadap akhlaq lingkungannya, dan membentuk habbits yang bisa menjadi karakter buruk (akhlaq madzmumah) yang melekat baginya dan lingkungan kerjanya, seperti apa yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali tersebut, terlebih lagi, apabila di dalam ritual seremoni tersebut membawa substansi agamawi, bisa terjatuh kepada perbuatan dzalim terhadap diri dan lingkungan. Na’udzubillahiu min dzalik.

Yaa Rabb, wahdinaa li’ahsanil akhlaaq, laa yahdii li’ahsanihaa illa anta. Washrif ‘annaa sayyi’ahaa laa yashrifu ‘annaa sayyi’ahaa illa anta wa alhiqnaa bish-shaalihiin . (Yaa Tuhan, berilah kami petunjuk kepada akhlaq yang paling mulia, tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Jauhkanlah dari kami akhlaq yang buruk, tidak ada yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau, dan masukkanlah kami ke lingkungan orang-orang yang shaleh).

Oleh: Moch. Fadlani Salam

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Hoki Kamu? Cek Peruntungan Shiomu di Tahun Kuda Api 2026
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI