Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang

Vania Rossa

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:48 WIB
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
Ilustrasi penanganan penyintas kanker lansia. (freepik.com/lifestylememory)
baca 10 detik
  • Data GLOBOCAN memproyeksikan kasus kanker Indonesia meningkat 63% antara 2025–2040, sementara deteksi dini masih menjadi tantangan besar.
  • Peningkatan harapan hidup penyintas kanker disebabkan kemajuan diagnostik dan terapi presisi, didukung skrining Primaya Hospital tahun 2026.
  • Penanganan kanker lansia memerlukan penilaian frailty index cermat untuk menentukan dosis terapi seimbang antara efektivitas dan kualitas hidup.

Suara.com - Jumlah penyintas kanker di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam satu dekade terakhir, termasuk pada kelompok usia lanjut. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) memproyeksikan, tanpa perubahan strategi yang signifikan, beban kasus dan angka kematian akibat kanker di Indonesia pada periode 2025–2040 dapat meningkat hingga 63 persen.

Di sisi lain, tantangan deteksi dini masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak pasien baru memeriksakan diri ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut, padahal sekitar 50 persen kasus kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi di Primaya Hospital Semarang, dr. Daniel Rizky, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa meningkatnya angka harapan hidup penyintas kanker tidak lepas dari kemajuan teknologi diagnostik, terapi yang semakin presisi, serta akses program skrining yang kian luas.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap deteksi dini, Primaya Hospital menghadirkan paket skrining kanker umum maupun khusus wanita yang tersedia sepanjang tahun 2026, guna mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan lebih awal.

Meski harapan hidup meningkat, penanganan kanker pada lansia memiliki kompleksitas tersendiri. Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan adalah frailty index atau tingkat kerapuhan biologis pasien, yang tidak selalu sejalan dengan usia kronologis.

“Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Karena itu, terapi tidak bisa disamaratakan dan harus melalui penilaian khusus sebelum menentukan jenis maupun dosis pengobatan,” jelas dr. Daniel.

Ia menegaskan, usia lanjut bukan berarti terapi harus dibatasi, melainkan harus diberikan secara lebih cermat dan terukur. Penanganan tetap didasarkan pada jenis dan stadium kanker, dengan mempertimbangkan fungsi organ, penyakit penyerta, serta tingkat kebugaran pasien. Dalam banyak kasus, kolaborasi dengan dokter spesialis geriatri juga dibutuhkan untuk memastikan terapi tetap aman dan efektif.

Dr. Daniel turut meluruskan anggapan bahwa pengobatan kanker pada lansia selalu berisiko tinggi. Saat ini, tersedia berbagai regimen terapi yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut, dengan pendekatan yang menyeimbangkan efektivitas pengobatan dan kualitas hidup.

“Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga dari respon tumor terhadap pengobatan serta kualitas hidup pasien. Terapi yang ideal adalah yang efektif tanpa membuat kondisi pasien semakin memburuk,” tambahnya.

baca juga

Selain aspek medis, dukungan keluarga memiliki peran krusial dalam proses pemulihan. Salah satu kekeliruan yang masih sering terjadi adalah pembatasan makanan secara ekstrem akibat mitos yang beredar, padahal pasien yang menjalani terapi justru membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung pemulihan.

“Kanker tak hanya penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional. Support system yang kuat membantu pasien tetap semangat dan tidak merasa sendirian dalam menjalani terapi,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan rangkaian pengobatan, penyintas kanker lansia tetap memerlukan kontrol dan pemantauan rutin. Hal ini penting untuk mendeteksi kemungkinan kekambuhan sekaligus memantau efek samping terapi jangka panjang.

Menurut dr. Daniel, penanganan penyintas kanker pada lansia idealnya menggabungkan terapi medis yang terukur dengan dukungan keluarga yang optimal. Tujuan utamanya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi juga memastikan kualitas hidup pasien tetap terjaga dengan baik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Edukasi dan Inovasi Jadi Kunci Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Gigi dan Mulut Lintas Generasi

Edukasi dan Inovasi Jadi Kunci Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Gigi dan Mulut Lintas Generasi

Health | Rabu, 18 Februari 2026 | 05:30 WIB

Panduan Lengkap Bayar Fidyah Lansia: Takaran dan Ketentuannya

Panduan Lengkap Bayar Fidyah Lansia: Takaran dan Ketentuannya

Your Say | Jum'at, 13 Februari 2026 | 17:20 WIB

5 Fakta Video Viral Lansia Dituduh Jukir Liar di Jakarta Utara, Ternyata Pensiunan Guru

5 Fakta Video Viral Lansia Dituduh Jukir Liar di Jakarta Utara, Ternyata Pensiunan Guru

News | Selasa, 10 Februari 2026 | 17:19 WIB

Terkini

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Health | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Health | Senin, 06 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

×