- Kunci sukses ekspatriat masuk ke pasar properti Asia Tenggara.
- Regulasi dan ekonomi Indonesia dukung material bangunan inovatif.
- Keseimbangan keluarga dan tim lokal perkuat penetrasi bisnis global.
Suara.com - Perpindahan penduduk antarnegara bukan sekadar soal mobilitas fisik, melainkan sebuah perjalanan sosiologis yang menuntut "rekayasa sosial". Bagi para ekspatriat dan investor global, kemampuan melebur dengan norma lokal adalah fondasi utama untuk mencapai keharmonisan hidup sekaligus keberhasilan bisnis di tanah baru.
Adaptasi budaya menjadi kunci krusial. Proses ini menuntut individu untuk menyesuaikan diri dengan praktik masyarakat setempat tanpa harus menanggalkan identitas asli. Meski dihantui tantangan culture shock, mereka yang memiliki kecerdasan emosional dan perspektif global biasanya mampu bertahan dan unggul di dunia yang kian terinterkoneksi ini.
Di Asia Tenggara, memahami budaya kolektivitas menjadi "pintu masuk" wajib bagi pendatang asal Barat. Keterbukaan pikiran dalam menghargai kearifan lokal menciptakan sinergi organik antara latar belakang personal dengan tradisi setempat.
Salah satu sosok yang sukses menjalankan proses adaptasi panjang ini adalah Michael Hofmann. Pengembang properti asal Jerman yang kini menetap di Sanur, Bali ini, membawa rekam jejak yang impresif. Mantan perwira pasukan khusus Jerman ini mulai menekuni dunia properti pasca-runtuhnya Tembok Berlin, sebelum akhirnya melanglang buana ke Amerika Serikat dan Timur Tengah untuk mengembangkan pasar Autoclaved Aerated Concrete (AAC).
Bagi Michael, masuk ke pasar baru seperti Indonesia memerlukan perhitungan matang, bukan sekadar intuisi.
"Banyak pertanyaan yang muncul di pikiran saya sebelum masuk ke pasar baru. Apakah produk AAC cocok di wilayah ini? Apakah akan diterima? Apa yang ditunjukkan oleh bangunan-bangunan di sana tentang penggunaan AAC?" ujar Michael dalam keterangannya, dikutip Kamis (19/2/2026).
Keputusannya berlabuh di Indonesia didasari oleh alasan struktural dan potensi ekonomi yang menjanjikan. Menurutnya, Indonesia memiliki pabrik yang mapan dan regulasi bangunan yang memberikan jalur jelas bagi penggunaan AAC sebagai material struktur penahan beban (load bearing).
"Ekonominya mampu mendukung pertumbuhan penggunaan AAC struktural. Selain itu, istri saya berasal dari Indonesia," tambahnya.
Meski telah berkeliling dunia sejak 1994, Michael tak menampik adanya kendala komunikasi, terutama saat berhadapan dengan pekerja lapangan yang tidak menguasai bahasa Inggris. Namun, hal itu disiasatinya dengan membangun tim bilingual yang solid.
Baca Juga: Prabowo Tawarkan 18 Proyek Hilirisasi Super Strategis ke Pengusaha AS
Pengalaman tinggal di berbagai negara dengan latar belakang agama dan kebiasaan berbeda membuatnya lebih resilien dalam beradaptasi. Baginya, kunci stabilitas dalam berbisnis di negeri orang adalah keseimbangan antara pekerjaan dan dukungan keluarga.
"Kami selalu memilih tempat yang baik untuk keluarga dan pekerjaan. Keseimbangan yang sehat antara pekerjaan dan keluarga sangat penting," pungkas Michael.