Adapun anggapan bahwa selaput dara adalah bukti keperawanan seseorang tentu ini anggapan yang kurang tepat.
Karena tidak semua perempuan terlahir memiliki selaput dara. Bahkan selaput dara juga dapat mengalami robek saat beraktivitas fisik, seperti bersepeda.
Ada juga selaput dara yang tidak robek walaupun sudah melakukan aktivitas selsual penetratif. Hemm, jadi bagaimana cara membedakan perempuan yang masih perawan dan yang sudah tidak perawan?
Dampak dari Stigma Keperawanan
Stigma negatif sosial tentang keperawanan perempuan tentu memberikan dampak terhadap psikologi perempuan yang bersangkutan.
Entah merasakan malu, bersalah, atau takut dicemooh. Yang pasti stigma negatif tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental.
Lebih jauh lagi stigma tersebut dapat mengganggunya untuk melaporkan tidakan kekerasan seksual yang dialami kepada pihak yang berwenang.
Selanjutnya, Ia juga enggan untuk melakukan konsultasi kepada tenaga kesehatan karena dianggap telah melakukan tindakan amoral.
Hingga pada akhirnya timbul rasa tidak percaya diri untuk mencari dan mendapatkan informasi penting terkait kesehatan seksual.
Baca Juga: Awas! Sex Toys Menularkan Penyakit HIV, Perhatikan ini Agar Tetap Aman
Jadi, pada prinsipnya setiap orang memiliki cara pandang berbeda tentang keperawanan ini. Oleh karenanya kita harus menghargai mereka yang memilih dan menerapkan prinsip seksualitas yang berbeda.
Yang lebih penting ialah kita mampu untuk saling menghargai perbedaan persepsi, karena pada prinsipnya setiap manusia sama-sama berharga.