Deli.Suara.com - Mahfud MD mengungkap marahnya Presiden Jokowi tatkala melihat lambatnya pengungkapan kasus pembunuhan Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan, 8 Juli 2022.
Hal ini disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD dalam podcast YouTube Akbar Faisal Uncensored, seperti dilihat Suara Deli, Kamis (18/8/2022).
Awalnya, Akbar Faisal mengapresiasi Menkopolhukam dalam mengawal kasus pembunuhan berencana yang merenggut nyawa Brigadir J hingga menguak fakta sebenarnya.
Lantas, Akbar Faisal bertanya bagaimana relasi antara perangkat-perangkat kekuasan hingga akhirnya dapat membongkar kasus ini, yang awalnya ditutup rapat sedemikian rupa oleh Irjen Ferdy Sambo.
"Saya berkomunikasi dengan presiden tidak lama sesudah itu (kejadian Brigadir J tewas)," kata Mahfud.
Ia mengatakan awalnya berkomunikasi dengan Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan menyampaikan ingin bertemu dengan Presiden Jokowi.
"Saya tanya Pak Pram, saya mau ketemu presiden, kasus ini (Brigadir J) gimana pak presiden?" ucap Mahfud.
Dari pembicaraan dengan Pramono Anung inilah terungkap kalau Presiden Jokowi marah atas lambatnya pengusutan kematian Brigadir J.
"Oh tegas pak, yakinlah saya, wong ini Pak Presiden marah betul dan kenapa lama," ucap Mahfud menirukan perkataan Pramono Anung.
Tak berapa lama, Menkopolhukam juga bertemu saat rapat dengan Presiden Jokowi, dan berpesan kalau kasus tersebut jangan ada yang ditutup-tutupi.
"Terakhir ketika Sambo ketika akan pecah telurnya itu kan sebenarnya sudah ada keyakinan tiga atau dua hari sebelumnya," ucapnya.
Meski begitu, Mahfud mengatakan proses penetapan tersangka Ferdy Sambo juga tampak lambat.
"Tapi kok lambat terus nih, yang saya dengar di Polri terjadi tarik-menarik," ungkapnya.
Mahfud membeberkan bahkan loyalis Ferdy Sambo juga datang dari daerah ke Jakarta.
"Grupnya Sambo dari daerah walau gak ada tugas di Jakarta datang ngawal kesitu upaya menghilangkan jejak itu dan menghalang-halangi penyidikan," katanya.
Presiden Panggil Kapolri dan Menkopolhukam
Karena dirasa berlarut-larut, Presiden lalu memanggil Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan Menkopolhukam pada Senin (8/8/2022).
"Presiden manggil Kapolri beritahu supaya diselesaikan, sesudah Kapolri berikutnya saya jadi terpisah, saya dengan Pak Pramono Anung," ungkapnya.
Semula Jokowi dan Mahfud MD berbicara tentang hak asasi manusia, dan setelahnya lalu membahas lambatnya kasus Brigadir J.
"Iya itu soal Kapolri kenapa lama-lama.Sampaikan ke Kapolri bahwa saya percaya kepada Kapolri bisa menyelesaikan masalah sederhana ini. Tapi jangan lama-lama segera diumumkan," kata Mahfud menirukan perkataan Jokowi.
"Saya bilang terjemahannya tapi jangan lama-lama ini, kalau disambung kalimatnya kalau anda lama nanti kepercayaan bisa hilang," sambungnya.
Mahfud lalu menyampaikan pesan kepada Benny Mamoto dari Kompolnas agar cepat membuka kasus ini tanpa ada yang ditutupi.
"Terus tengah malam Kapolri kontak saya WA tengah malam gitu. Pak Menko alhamdulilah ini sudah terang benderang semua dan sudah ketemu," katanya.
Mendapat pesan itu, lanjut Mahfud maka Selasa (9/8/2022) pagi, memberikan pernyataan lewat Twitter miliknya.
"Makanya paginya saya cuit supaya tidak mundur lagi kan, saya cuit alhamdulillah hari ini selesai, nanti Polri yang mengumumkan kalau sudah terkomunikasikan ke publik dan saya katakan itu dari Kapolri kan yang mau mengganggu tidak berani kan," katanya.
Hingga akhirnya, Polri menggelar konferensi pers dan mengumumkan Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka utama pembubuhan berencana terhadap Brigadir J.
"Itulah akhirnya diumumkan meskipun agak terlambat dari pagi jadi malam," pungkasnya.