Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka punya jawaban tersendiri saat dimintai respons terkait namanya yang berada di urutan pertama sebagai calon Gubernur Jateng dalam survei Parameter Politik Indonesia.
Dalam hasil survei simulasi pasangan calon Pilgub Jateng itu, Gibran dipasangkan dengan Bupati Kendal, Dico M Ganinduto. simulasi paslon ini menempati urutan pertama dengan skor 56,9 persen.
Menanggapi survei tersebut Gibran nampak kebingungan menjawab pertanyaan wartawan.
"Takon Mas Dico (tanya Mas Dico)," kata Gibran.
"Sopo nomor 1? Mas Dico? Selamat Mas Dico" tanya Gibran pada wartawan.
Wartawan meluruskan bahwa yang Gibran dan Dico lah yang jadi nomor satu dalam survei tersebut.
"Oh aku toh?" respons Gibran.
Gibran tampak diam sejenak melihat arah bawah.
"Nggak penting," kata Gibran lalu meninggal wartawan.
Baca Juga: Perhatikan 3 Hal Ini saat Menghadiri Acara Keluarga Besar
Rekaman video itu lantas dibagikan lagi oleh Gibran dalam tweet-nya. Putra sulung Presiden Jokowi itu mengakui bahwa jawabannya dalam wawancara tersebut cukup membuat bingung.
"Jawaban yang membagongkan," cuit Gibran.
Elektabilitas Gibran saat ini tertinggi jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Nama putra sulung Presiden Jokowi itu kian populer usai membuktikan bisa menjadi Pemimpin Kota Solo.
Jika Gibran benar-benar maju di Pemilihan Gubernur Jawa Tengah, maka ia akan menjadi tokoh milenial yang mencalonkan diri di Pilgub Jateng.
Akademisi Universitas Diponegoro Semarang Retna Hanani mengatakan bahwa Gibran Rakabuming Raka dan Dico Ganinduto yang sama-sama tokoh muda berpeluang bersaing dalam konstelasi posisi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024.
"Kemungkinan mereka malah akan berkompetisi. Kalau untuk menyatukan, saya kira agak riskan," kata Retna dikutip dari ANTARA pada Senin (26/6/2023).
Gibran yang notabene putra sulung Presiden RI Joko Widodo adalah Wali Kota Surakarta, sedangkan Dico adalah Bupati Kendal yang merupakan politikus Partai Golkar.
Pengajar FISIP Undip itu memperkirakan elektabilitas kedua tokoh muda itu sama-sama tinggi di kalangan anak muda. Akan tetapi, tidak bisa menafikan konstelasi politik yang cukup mapan di Jateng.
"Secara proporsional anak muda itu sebanyak 31—33 persen, itu suara besar. Akan tetapi, kita harus memperhatikan konstelasi politik yang cukup mapan di Jateng bahwa harus ada representasi dari kelompok nasionalis dan agama," katanya.