Suara Denpasar - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 200 warga harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi akibat gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,2 di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Gempa yang berlangsung pada Minggu pukul 06.10 WIB tadi pagi ini sempat membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah.
Gempa yang berkekuatan cukup kuat ini membuat warga berhamburan lantaran durasi gempa 5 sampai 10 detik di beberapa daerah yang berbeda.
Dari laporan BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai dan BPBD Provinsi Sumatera Barat, gempa itu dirasakan kuat selama kurang lebih 5 detik di Tuapejat dan 10 detik di Kota Padang.
Kini dari laporan yang diterima BPBD teratat sudah ada tujuh dusun yang warganya mengungsi ke tempat-tempat aman atau yang lebih tinggi.
Warga sudah mulai terbiasa dengan apa yang harus dilakukan saat terhadi gempa dengan kekuatan yang besar.
Mereka secara mandiri menuju ke perbukitan. Hal itu dilakukan sama seperti setelah terjadi gempa M 6,4 pada akhir Agustus 2022 lalu.
“Kurang dari 200 warga Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara juga mengungsi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai Novriadi dari laman ANTARA, Minggu (11/9/2022).
Sejauh ini pihaknya masih mendata kerusakan dan korban yang ditimbulkan akibat gempa ini.
Baca Juga: Bharada E Diterapi 1,5 Jam Pulihkan Trauma Berat dari Ferdy Sambo, Sampaikan Permintaan Ini
Namun dari laporan sementara ada satu warga Desa Betaet yang mengalami luka di bagian kepala setelah tertimpa kayu yang berada di rumahnya.
Beruntung segera mendapatkan pertolongan dari pihak Puskesmas setempat.
Kerusakan ringan juga terjadi di sejumlah bangunan, seperti SMP Negeri Sagulubbek dan Puskesmas Betaet di Kecamatan Siberut Barat Daya.
Kerusakan itu berupa dinding yang retak dan keramik dinding terkelupas.
BPBD Provinsi Sumatera Barat dan BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai terus berkoordinasi untuk langkah selanjutnya dan melakukan pemantauan. ***