Suara Denpasar- Tragedi Kanjuruhan yang melibatkan suporter Arema FC dan aparat kepolisian dan TNI menyebabkan lebih dari 130 suporter meninggal dunia.
Ungkapan duka cita mengalir dari berbagai kalangan atas tragedi kelam dalam sepakbola Indonesia ini.
Doa dari segala penjuru juga terucap untuk para korban dan keluarga korban yang ditinggalkan atas tragedi Kanjuruhan ini.
Namun tidak sedikit juga yang meluapkan kekesalan yang teramat sangat atas tragedi berdarah ini.
Terlebih mereka yang kehilangan kerabat serta saudara. Kekecewaan juga dilontarkan dari sesama suporter lainnya.
Kini akun resmi Polres Malang bercentang biru tidak luput dari sasaran kekesalan warganet.
Admin Polres ini sempat mengunggah persiapan pengamanan laga Arema FC. Setelah itu tidak ada unggahan lagi pasca kerusuhan di insta story institusi ini.
Bahkan akun Polres ini sangat mencolok lantaran memiliki motto polisi adem dengan nama akun @polresmalang_polisiadem.
Hal itu seolah tidak didapatkan ketika pengamanan di lapangan saat laga Persebaya vs Arema FC usai.
Baca Juga: Kang Dedi Mulyadi hingga Puan Maharani Berduka, Tidak Ada Toleransi Terhadap Kekerasan
Sejumlah unggahan dikomentari kemarahan oleh warganet sesaat setelah kejadian berlangsung.
"Saya harap bapak polisi bertanggung jawab penuh atas kejadian malam ini," jelas pemilik akun @aldxxxx
"GAS AIR MATA BUKAN SOLUSI! #malangberduka," jelas akun lainnya
"Banyak korban bukan karena ikut membuat kericuan, tapi masih tertahan di stadion dikarenakan penuh sesak untuk keluar dari stadion dan gas air mata itu yang membuat suasana menjadi menghawatirkan di karenakan korban seperti wanita dan anak kecil terkena imbasnya," jelas warganet lainnya.
Banyak warganet yang meminta pertanggungjawaban dari aparat kepolisian atas tragedi berdarah tersebut.
Ada juga pengakuan dari warganet yang keluarganya menjadi korban dari tragedi maut tersebut.
Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta mengatakan jika penembakan gas air mata sudah sesuai dengan prosedur.
Kata dia itu diakukan sebagai upaya menghalau serangan suporter yang merangsek turun ke lapangan dan berbuat anarkistis.***