Suara Denpasar – Anggota DPR RI, Kang Dedi Mulyadi sempat mendatangi warung kopi plus-plus di pinggir jalan. Warung kopi ini biasanya menemani lelaki pelanggan warung. Meski demikian, cewek pelayan kopi bisa “dipakai”.
Seperti terlihat dari Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, tampak Kang Dedi Mulyadi bersama anak buahnya naik mobil dan berhenti di warung kopi plus-plus.
Kemudian Kang Dedi Mulyadi masuk ke warung kopi dan ngobrol dengan seorang cewek berkaus merah muda yang dipanggil Teteh (panggilan untuk kakak perempuan, seperti Mbak di Jawa, atau Mbok di Bali). Dalam video itu disebut nama perempuan itu diinisialkan dengan S.
Kang Dedi Mulyadi pun mengorek cerita dari S. Kepada Kang Dedi, dia mengaku seorang janda yang cerai dengan suaminya lantaran sang suami berselingkuh dengan tetangganya. Setelah cerai dengan suaminya, dia harus mengasuh seorang anaknya, yang kini sudah berusia 8 tahun.
“Sudah cerai 3 tahun lalu,” kata Teteh S, dilihat Suara Denpasar, Senin (10/10/2022).
S mengaku pernah bekerja di pabrik. Kemudian sempat pulang kampung karena anaknya sakit. Setelah itu dia mengetahui suaminya selingkuh dan bercerai. Singkat cerita, dia sempat bekerja di usaha konveksi.
“Kalau banyak order, seminggu dapat Rp400 ribu,” terangnya.
Namun, karena pandemi Covid-19, usaha konveksi tempat dia bekerja sepi orderan. Maka, S pun pergi mencari nafkah sebagai pelayan di warung kopi plus-plus. Dia juga melayani pria hidung belang dengan bayaran Rp300 ribu per orang.
“Rencana sampai kapan?” tanya Kang Dedi.
Teteh S pun tak bisa menjawab dengan pasti. Kemudian Kang Dedi menyakan apakah dia tidak ingin pulang kampung berusaha sendiri. Ternyata, Teteh S pernah buka warung di kampungnya. Usaha warungnya tutup karena modalnya habis dibuat akan setelah suaminya dipecat dari pekerjaan.
Tidak sampai di sana, Teteh S juga mengaku masih punya utang di “Bank Emok”. Ini bukan bank betulan, hanya semacam rentenir di desa-desa.
Karena terdesak membiayai hidup dirinya dan anak, serta membayar utang, Teteh S pun menjadi pelayan warung kopi plus-plus. Ia terpaksa.
Hasilnya pun dia mengaku tidak banyak. Saat ditemui Kang Dedi, dia baru mendapat uang Rp600 ribu untuk seminggu. Sebanyak Rp350 ribu dikirim untuk anaknya di kampung.
"Ini saran saya buat Teteh. Teteh kan ngejalani kan berat. Teteh buka warung lagi saja,” kata Kang Dedi.
Dalam sekejap, Kang Dedi merogoh sakunya. Dia memberi beberapa lembar uang pecahan Rp100 ribu. Pertama dia memberi sekitar lima lembar.