“Salah satu indikator solusi palsu itu adalah masih ditolerirnya penggunaan batu bara dan gas, dengan cara memberikannya label hijau atau ramah lingkungan hidup," sambung Suriadi.
Kegagalan KTT G20 yang menghasilkan solusi palsu transisi energi itu, lanjut Suriadi Darmoko, akan memperparah krisis iklim kedepannya.
“Tanpa keseriusan negara-negara G20 dalam melakukan transisi energi, dapat dipastikan krisis iklim akan semakin sulit dielakkan,” terangnya, “Ke depan kita akan lebih sering mengalami bencana ekologi akibat krisis iklim," pungkasnya. (*)