Suara Denpasar - Desa Trunyan di Kecamatan Kintamani, Bangli merupakan salah satu desa di Bali yang memiliki tradisi pemakaman unik.
Di Desa Trunyan, jenazah orang yang meninggal tidak dikubur maupun dibakar (aben) melainkan hanya diletakkan di atas tanah lengkap dengan upacaranya.
Jasad orang meninggal ini dipagari bambu agar terhindar dari binatang buas, uniknya meski hanya diletakkan di atas tanah, mayat tersebut tidak mengeluarkan bau.
Tradisi pemakaman yang terbilang cukup unik ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Desa Trunyan.
Lalu sudah pada tau belum bagaimana sejarah Desa Trunyan tersebut?
Tim SuaraDenpasar.com dalam artikel ini akan membahas asal mula Desa Trunyan yang dilansir melalui laman resmi terunyan.desa.id.
Beberapa abad yang lalu diketahui di Puri Dalem Solo tercium aroma harum yang semerbak.
Aroma harum tersebut mampu menarik perhatian empat anak Dalem Solo untuk mencari tahu sumbernya.
Mereka berempat terdiri dari satu orang perempuan dan 3 sisanya laki-laki.
Baca Juga: Total Kekayaan RIzal Ramli, Cukup Buat Modal Maju Capres 2024?
Singkat cerita, keempat anak dari Dalem Solo ini tiba di Pulau Bali. Namun anak perempuan Dalem Solo memutuskan tidak ikut melanjutkan perjalanan setibanya di kaki selatan Gunung Batur.
Sementara tiga saudara laki-lakinya tetap menyusuri tepi Danau Batur untuk mencari sumber aroma harum tersebut.
Dalam perjalanan, terdengar suara burung yang membuat saudara laki-laki termuda itu berteriak. Atas hal itu, kakak tertuanya marah dan menendangnya hingga jatuh bersila.
Tak berhenti sampai disana, dua saudara lainnya yakni anak pertama dan kedua meninggalkan sang adik dan terus melakukan penyusuran.
Namun dalam perjalanan adiknya tersebut kegirangan bertemu dengan manusia dan lantas menyapa. Tindakan ini rupanya membuat anak sulung dari Dalem Solo tidak senang dan memutuskan untuk meninggalkan adiknya.
Seorang diri melanjutkan perjalanan ke arah utara dan saat tiba di sebuah dataran ia bertemu dengan seorang dewi yang memikat hatinya.