Suara Denpasar - Jadi Urang Sunda Tulen, Dedi Mulyadi Mantun di Acara Teh Elis Lestarikan Budaya Leluhur.
Sebagai pejabat urang asli Sunda, Dedi Mulyadi sangat menjunjung budayanya. Dimulai dari bahasa, adat-istiadat, hingga kehidupannya sangat mencerminkan budaya Sunda.
Tak sedikit keseharian yang dilakukan anggota DPR RI itu, yang mencerminkan budaya Sunda.
Pada satu acara, Dedi Mulyadi bahkan pernah meminta anak-anak muda satu desa untuk melestarikan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu mereka.
Sebelum ia mengajarkan apa yang dianjurkannya kepada khalayak, ternyata ia telah menguasai semuanya.
Pada acara nikahan teh Elis, Dedi Mulyadi pun unjuk kebolehan dengan mendendangkan sebuah pantun.
Ia yang didaulat teh Elis untuk menjadi saksi pernikahan, bak pujangga dalam merangkai kata.
Setelah pernikahan teh Elis sah, Dedi Mulyadi memberikan nasehatnya untuk kedua mempelai.
Salah satu nasihat yang diungkapkannya tentang kesetiaan dan taat kepada suami, dibawakan dengan gaya pantun khas urang Sunda.
Baca Juga: 4 Perang dengan Waktu Tersingkat yang Pernah Terjadi di Dunia
Dikutip dari kanal Youtube Lembur Pakuan Channel, berikut pantun yang didendangkan KDM.
"Kukituna wilujeng (oleh karenanya, selamat menempuh hidup baru)," ungkapnya.
"Mudah-mudahan rumah tanggana salamina (semoga rumah tangganya selamanya), sing berkah rahayu (mendapatkan keberkahan), panjang punjung (panjang jodoh), jauh tina balai panjang kana rezeki (dijauhkan dari celaka dan didekatkan rizkinya)," ungkapnya lagi.
Setelah itu, ia juga memberikan nasihat agar selalu taat kepada suami dalam bahasa pantun indah yang populer di tataran Sunda.
"Kacai jadi saleuwi kadarat kadi salogak (ke sungai jadi satu tujuan, ke dara pun demikian)," tambahnya.
Hadirin pun mengaminkan doa dari mantan bupati Purwakarta itu dengan serius.