Suara Denpasar - Ponyo! Dedi Mulyadi lahap santap oreg dan ikan asin, tapi miris melihat budaya Ciririp luntur.
Dedi Mulyadi didaulat teh Elis untuk menjadi saksi dan memberinya nasehat, pada acara pernikahannya.
Sekarang, suster Hyang Sukma Ayu itu telah dibawa pergi imam pilihannya untuk kehidupan.
Mengurus Hyang Sukma Ayu sejak lahir, Dedi Mulyadi mengucapkan rasa terima kasihnya kepada teh Elis.
Belum diketahui apakah teh Elis akan melanjutkan pekerjaannya atau tidak.
Tapi pada nasihat pernikahan yang disampaikan, Dedi Mulyadi mengatakan untuk taat kepada suaminya.
Karena walau bagaimanapun, teh Elis telah memilih laki-laki itu untuk menjadi imam bagi dirinya.
"Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salogak," ungkap kang Dedi mulyadi sebagai bagian dari nasihat yang diungkapkannya untuk teh Elis.
Pepatah Sunda populer bagi pasangan yang artinya dimanapun suami berada, di situ istri mengikuti.
Baca Juga: Sopir Diduga Ngantuk, Mobil Pajero Sport Terguling Usai Tabrak Trotoar Di Tambora
Pada pernikahan teh Elis, Dedi Mulyadi tak segan meluangkan waktunya.
Ia bangun sejak jam dua pagi dan berangkat jam tiga pagi, sampai di tempat hajat sekitar jam 8 pagi.
Kelaparan karena belum sarapan, ia pun langsung ke dapur mencari makanan.
Di tengah emak-emak, Dedi Mulyadi menyantap oreg (bihun goreng-red) dan ikan asin dengan lahap (ponyo-red).
Tapi sebagai urang lembur (kampung), ada yang membuat Dedi Mulyadi sedih.
Karena mereka tak lagi menggunakan bahan dari alam untuk kebutuhan mereka sehari-hari.