Suara Denpasar - Mantan Komisioner KPU RI, Gusti Putu Artha membandingkan sosok Wali Kota Solo Gibran Rakabuming dan Gubernur Bali Wayan Koster.
Perbandingan itu dia lakukan terkait sikap Gibran dan Koster terhadap Piala Dunia U-20. Gibran dan Koster memiliki pandangan yang berbeda terkait ajang tersebut.
Sebagai salah satu wilayah yang ditunjuk untuk perhelatan Piala Dunia U20 yaitu di lapangan Manahan Solo, saat ditanya soal Timnas Israel Gibran mengatakan dia tidak menolak. Karena dia memposisikan dirinya sebagai tuan rumah yang ditugaskan pemerintah pusat untuk menyiapkan venue.
Sementara, Gubernur Bali Wayan Koster sebagai salah satu tuan rumah yaitu di lapangan Dipta Gianyar justru tiba-tiba menolak Timnas Israel U-20 bermain di Bali. Alasannya cukup ngeleneh, yaitu karena Israel menjajah Palestina dan tidak sesuai dengan amanat UUD 1945.
Atas perbedaan tanggapan itulah, Gusti Putu Artha mengatakan Gibran lebih cakap dari Gubernur Bali Wayan Koster dalam hal pemahaman tentang kewenangan seorang Kepala Daerah.
Putu Artha menjelaskan, pembagian kewenangan pusat dan daerah menurut Undang-undang Nomor 9 tahun 2015 dan perubahaan Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, urusan luar negeri, urusan keuangan, urusan pertahanan keamanan adalah urusan pemerintah pusat.
"Bukan urusan pemerintah Provinsi, maka dalam konteks hukum tata negara seharusnya seorang Gubernur, cukup seperti seorang Gibran," katanya saat melakukan aksi menuntut Gubernur Bali minta maaf usai Indonesia dicoret sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Kamis, (39/3/2023) kemarin.
Menurutnya, Koster semestinya cukup membicarakan bagaimana persiapan lapangan, bukan mengurusi urusan politik luar negeri yang sesungguhnya berada jauh diluar kewenangannya.
"Tidak usah sok-sokan tiba-tiba urusi negara lain seperti Israel yang menjadi urusan luar negeri di pemerintah pusat," tandasnya. (Rizal/*)
Baca Juga: Beda Dari Kader PDIP yang Tolak Timnas Israel di Piala U-20, Gibran: Saya Siap Menerima Hukuman