Suara Denpasar - Mantan Komisioner KPU RI, Gusti Putu Artha mengatakan ada kesamaan Gubernur Bali, Wayan Koster dan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Persamaan itu karena sama-sama mengguncangkan dunia. Soekarno membutuhkan 10 pemuda untuk mengguncangkan dunia dan memberikan harapan kepada bangsa, sedangkan Wayan Koster hanya membutuhkan selembar kertas untuk mengguncangkan dunia dan menghancurkan harapan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Putu Artha usai berapi-api memberikan orasi menuntut Koster meminta maaf usai selembar kertas yang dikirimkan Koster kepada Menpora berhasil mengguncang dunia, yakni batalnya Piala Dunia U-20 di Indonesia.
"Kalau kita mau sedikit tidak tegang, dulu Soekarno bilang berikan aku 10 pemuda maka aku akan mengguncangkan dunia, kalau Koster bilang berikan aku selembar kertas aku sendiri bisa mengguncangkan dunia," katanya di Wantilan DPRD Provinsi Kamis, (30/3/2023).
Dalam aksinya tersebut, Putu Artha mengatakan Koster telah membuat keputusan yang sangat blunder. Sehingga telah merusak citra bangsa Indonesia.
"Seorang pemimpin (Koster) dengan kecerobohannya menghancurkan nama baik bangsa Indonesia, saya sebagai warga negara sangat marah. Untuk itu kami mendesak agar Koster secara ksatria tampil ke publik untuk minta maaf kepada masyarakat Bali, minta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia," tegasnya.
Untuk diketahui, sebelumnya Gubernur Bali, Wayan Koster mengirimkan surat kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia pada tanggal 14 Maret 2023 lalu.
Dalam surat itu Koster menolak Timnas Israel U-20 untuk berlaga di Bali. Surat koster tersebut tergolong sakti, pasalnya FIFA akhirnya mencabut status tuan rumah Piala Dunia U-20 dari Indonesia.
Untuk itu, Putu Artha mendesak Koster untuk bertanggungjawab. "Koster harus bertanggung jawab, Koster harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia," tegasnya kembali. (Rizal/*)