Suara Denpasar - Mantan pelatih Timnas U16 sekaligus Direktur Academy Deltras FC, Fakhri Husaini melontarkan kritik pedas pada PSSI.
Fakhri Husaini menilai jika seleksi yang diadakan PSSI untuk mencari calon pemain Timnas Indonesia untuk hadapi Piala Dunia U-17, layaknya pertandingan Tarkam (Antar Kampung) di tingkat kecamatan.
Melansir Bolatimes, Fakhri Husaini yang pernah melatih Timnas Usia 16 tahun pada periode 2018/2019 menilai metode yang dilakukan PSSI untuk mencari pemain yang akan berlaga di Piala Dunia U17 kurang efektif dan tidak tepat.
Ia juga membeberkan kalau kriteria yang dipatok PSSI sebagai syarat lolos seleksi calon pemain Timnas Indonesia U17 juga tidak realistis dan sulit dipenuhi oleh pemain muda.
"Sebelum seleksi PSSI mengumumkan 8 kriteria yang harus dipenuhi pemain untuk bisa masuk ke timnas U-17. Kriterianya tidak main-main," ucap Fakhri Husaini dikutip dari perbincangan di kanal YouTube Omah Balbalan.
"Saya ingin melihat bagaimana PSSI melakukan seleksi satu hari, tapi bisa menemukan kriteria itu. Saya melihat ini tidak realistis untuk dicapai" tambahnya.
Pria yang juga pernah mengarsiteki Persela Lamongan di Liga 2 itu juga memberikan kritikan kalau apa yang dilakukan PSSI untuk Timnas U17 ini tak ubahnya seperti mengelar pertandingan Tarkam di tingkat kecamatan.
"Membentuk tim di Piala Dunia jangan pakai cara seleksi yang begitu. Untuk tingkat kecamatan boleh lah kalian pakai cara begitu. Saya melihatnya untuk lucu-lucuan aja seleksi itu. Untuk apa ada seleksi lagi kalau kita sudah punya EPA," sindirnya.
Menurutnya, Jika ingin mencari bibit pemain unggul yang siap maju di ajang sekaliber Piala Dunia U17, baiknya mencari dari kompetisi EPA (Elite Pro Academy) yang memang disiapkan untuk menjadi calon pemain sepak bola profesional di masa depan.
Pelatih yang saat ini ditunjuk menjadi Direktur Akademi Deltras FC ini, juga menyindir kalau Seleksi ini seperti hanya untuk lucu-lucuan saja.
Tanpa mengurangi niat baik PSSI untuk membentuk Timnas Indonesia yang lebih baik, ia Fakhri juga mengingatkan kalau pembenahan metode seleksi pemain juga harus tepat dan bisa mencetak pemain potensial di masa depan. (*/Ana AP)