Depok.suara.com - Kisah pilu masih tersisa setelah dua minggu Tragedi Kanjuruhan terlewat. Hal ini terlihat dari kisah seorang laki-laki yang masih tetap bertahan di Stadion Kanjuruhan pasca kejadian mengenaskan tersebut.
Pria bernama Rusdi ini adalah salah seorang suporter Arema atau disebut Aremania yang juga menjadi korban dalam Tragedi Kanjuruhan. Dirinya selamat dalam kejadian yang menewaskan 100 lebih Aremania tersebut.
Tetapi malangnya tiga temannya harus kehilangan nyawa, padahal mereka berangkat bersama untuk menonton pertandingan tersebut. Hal inilah yang menyebabkan dirinya memilih bertahan selama 11 hari di Stadion Kanjuruhan.
Diceritakan oleh seorang pemilik warung sekaligus penjual kopi, Bu Tin sosok Rusdi biasa bangun dengan mata sayu. Dengan rambut acak-acakan, pria berbaju Arema FC ini terlihat duduk sambil berusaha mengumpulkan kesadaran.
Kesadarannya yang sudah terkumpul penuh, menggerakkan kakinya untuk mencari toilet di sekitar stadion. Sayang, semua akses pintu di toilet stadion tertutup. Akhirnya laki-laki ini memilih toilet yang ada di warung sekitar stadion setempat.
Pemilik warung mempersilahkan laki-laki ini menggunakan toilet warungnya. Bahkan beberapa kali pemilik warung memberikan kopi dan makanan gratis namun selalu ia tolak.
"Sama saya, korban ini ngomong, datang ke stadion sama tiga temannya. Nah, tiga orang temannya ini meninggal dunia semua. Satu orang cewek, dua orang laki-laki, meninggal semua. Tinggal dia sendiri," ungkap, Bu Tin seperti dikutip dari Beritajatim.com jaringan Suara.com, Rabu (12/10/2022).
Dari penuturan wanita berusia 59 tahun tersebut Rusdi kerap berkeliling di Stadion Kanjuruhan tanpa tujuan yang jelas. Ketika menjelang malam, Rusdi yang diketahui warga Desa Kertosuko, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo ini tidur di depan pintu utama stadion atau di patung kepala Singa Tegar.
Karena iba, Bu Tin memohon agar laki-laki 17 tahun ini untuk kembali ke rumahnya di Probolinggo. Namun jawaban yang diterima Bu Tin, Rusdi enggan kembali karena masih merasa bersama tiga temannya yang sudah tewas.
Baca Juga: UMKM di Bandung Dapat BLT BBM Rp450 Ribu
"Saya tanya, pulang lah nak. Tiga temanmu sudah nggak ada. Tapi jawabnya nggak mau pulang, masih merasa bersama teman-temannya dan menunggu temannya yang meninggal itu," ujar Bu Tin.
Rusdi sendiri merupakan anak yatim piatu. Ia tinggal hanya dengan seorang kakak kandungnya dan takut untuk kembali ke Probolinggo.
"Sudah saya bilang agar pulang, tapi dia bersikukuh menunggu temannya. Kalau ngopi disini saya gratiskan juga gak mau. Alasannya kalau pulang katanya takut sama kakaknya. Dia kan anak yatim piatu juga, kasihan saya," kata Bu Tin iba.
Ada dugaan bahwa Rusdi mengalami trauma hebat sehingga memilih untuk bertahan di Stadion Kanjuruhan. Sub Kordinator Monev dan Pelayanan Medis RSUD Kanjuruhan Lukito Condro bersama Psikolog RSUD Kanjuruhan, Hardiono menjelaskan, pihaknya ditugaskan ke Stadion mencari keberadaan Rusdi untuk memberikan pendampingan langsung.
"Anak ini sudah dua pekan di stadion. Datang menonton pertandingan Arema dengan tiga orang teman, tiga orang itu meninggal semua. Selanjutnya kami juga berkoordinasi dengan Dinkes Probolinggo yang mencari keberadaan anak ini," kata Hardiono.
Dugaan trauma berat itu juga ditunjukkan dengan prilaku Rusdi yang enggan untuk diperiksa bahkan dibawa oleh tim medis. Tak ingin kesehatan mental Rusdi makin terganggu, Lukito tengah meminta bantuan RSJ Lawang untuk mengevakuasi Rusdi.