Memiliki jabatan yang berkualitas, pengaruh Sigit di PSSI semakin menguat usai menjadi Kepala Proyek PSSI Garuda dan menjadi Ketua I PSSI.
Meskipun Arseto didirikan di Jakarta, namun klub tersebut sangat dirindukan oleh masyarakat Kota Solo terutama yang hidup di era Galatama.
Ketenaran Arseto saat itu juga menggusur nama besar Persis Solo yang merupakan klub legendaris di Indonesia.
Hal tersebut tentunya tak terlepas dari prestasi Arseto yang cukup mentereng, mulai dari menjuarai Piala Liga 1 tahun 1985.
Dua tahun kemudian, Arseto Solo tampil sebagai juara Invitasi Perserikatan-Galatama dan mewakili Indonesia di ajang Liga Champions Asia.
Klub tersebut sukses mencatatkan sejarah dengan keberhasilannya melaju ke babak semifinal Liga Champions Asia.
Meski dikenal tak menyukai olahraga sepakbola, namun nyatanya keluarga Soeharto memiliki peran penting bagi perkembangan sepakbola Indonesia.
Hal ini terlihat dalam sambutan Soeharto sebagai presiden Indonesia dalam sebuah majalah sepakbola yang diterbitkan PSSI pada 1975.
Dalam sambutannya itu, ia menantang PSSI untuk membentuk tim yang kuat karena dengan 130 juta penduduk Indonesia saat itu, tentunya tak sedikit muncul bibit pemain berkualitas.
Baca Juga: Polisi Bakal Periksa Mayang dan Lolly Unyu Buntut Aksi Tertawakan Upacara Bendera
Selain itu, Soeharto juga menghadiri peringatan ulang tahun PSSI pada tahun 1990. Dalam sambutannya Soeharto menegaskan bahwa PSSI tak hanya menjadi organisasi olahraga saja, tapi juga bisa menekankan prestasi dengan mendukung program pemerintah. (*)