Seniman Visual Effects Indonesia Berhasil Menembus Industri Film Australia

Siswanto, ABC

Kamis, 29 September 2022 | 10:16 WIB
Seniman Visual Effects Indonesia Berhasil Menembus Industri Film Australia
Ilustrasi film (pixabay.com)

Suara.com - Beberapa animator asal Indonesia berhasil menembus layar industri perfilman Australia, di saat masalah gaji dan waktu kerja masih jadi tantangan animator di dalam negeri.

Nathania Calosa Nema, asal Semarang, kini bekerja sebagai seniman efek visual, 'VFX compositor', di kota Adelaide.

Osa sudah pernah mengerjakan film Elvis, serial Netflix berjudul Man vs. Bee, dan film produksi Marvel yaitu Thor: Love and Thunder.

"Ini adalah mimpi yang jadi kenyataan, saya dari dulu sudah pengen banget," katanya.

"Berhubung saya pasti mau bertahan di industri ini, saya berharap bisa naik level dari junior ke mid dan lama-lama senior untuk bisa bantu yang junior."

Menurut Osa, panggilan akrabnya, industri perfilman di Australia saat ini sedang maju.

Karenanya tidak heran jika Pemerintah Australia memberikan visa bagi pekerja industri film, televisi, dan lainnya di dunia hiburan.

Osa sendiri menggunakan visa jenis 'Entertainment Activities stream' yang masa berlakunya maksimal dua tahun.

Visa ini sudah ada di Australia sejak tahun 2016, dan dulunya merupakan visa subclass 420 yang mengikuti aturan migrasi tahun 1994.

baca juga

Untuk mendapatkan visa ini, ia harus menyertakan bukti kontrak kerja dengan perusahaan di Australia.

Kementerian Dalam Negeri Australia mencatat sudah memberikan 137 visa jenis ini di periode 2018-2019 dan 44 visa di periode 2021-2022.

"Pelamar Amerika Serikat adalah pengguna terbanyak visa ini," kata juru bicara departemen tersebut kepada ABC Indonesia.

Namun, Departemen Dalam Negeri Australia tidak melaporkan jumlah pelamar visa tersebut.

Soal gaji, Osa mengaku "cukup" mengingat biaya hidup di Australia yang juga tinggi saat ini.

Tapi satu hal yang paling ia syukuri adalah kondisi 'work-life balance' atau seimbangnya bobot kerja dan kehidupan di luar jam kerja, selain juga rekan kerja yang menurutnya suportif.

"

"Saya merasa masih banyak kekurangan tapi tetap dipertahankan. Teman kerja juga sabar mengajari saya," kata Osa yang bekerja di Rising Sun Pictures.

"

Bermain basket dengan aktor film Shang Chi

Sudah 15 tahun, Davi Soesilo, warga asal Malang berkiprah di industri perfilman Australia.

Ia sudah pernah mengambil beberapa bagian dalam produksi film, termasuk memegang kamera dan akting, namun kebanyakan mengerjakan 'visual effects' di lokasi syuting.

"Saya menjadi penghubung di set sama post-production," kata Davi.

"Jadi saya mengambil foto background, objek, orang, dan semua informasi untuk pengolahan film atau post-production … dan kita koordinasi seberapa persen [set] yang dibangun asli dan berapa yang harus di post-production."

Davi sudah pernah terlibat dalam puluhan film, yang di antaranya adalah nama besar, seperti Thor: Love and Thunder, Shang-Chi and the Legend of Ten Rings, Mortal Kombat, Murder on the Orient Express, dan The Wolverine.

Perjumpaan dengan aktor dan aktris juga sudah jadi hal biasa bagi Davi.

Tapi tetap saja, ia kadang masih tidak percaya melihat mereka yang biasanya hanya dari layar kaca, seperti Tony Leung Chiu-wai, Natalie Portman dan Hugh Jackman kini menjadi rekan kerjanya.

Kesempatan bertemu mereka dimanfaatkan Davi bertukar pikiran, termasuk dengan sutradara.

Menurutnya, beberapa dari mereka bahkan "asik diajak ngomong."

Di sela-sela syuting, pria asal Malang tersebut juga pernah bermain basket dengan aktor Simu Liu, yang berperan dalam film Shang Chi.

"[Momen berkesannya] mungkin yang waktu syuting Shang Chi saya diminta untuk menjadi Morris, binatang CGI. Jadi saya harus pakai tongkat atau main boneka pakai tali supaya aktornya bisa akting bersama dia," katanya.

"Kebetulan di adegan itu syuting bersama Ben Kingsley, Michelle Yeoh, dan Simu Liu, dan karena saya S1-nya Teater, ya akhirnya bisa main teater lagi."

Usaha untuk mendapat pengalaman

Tapi perjuangan Osa dan Davi untuk bisa sampai ke titik ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Osa yang pernah kuliah di Selandia Baru juga sempat bekerja part-time di kafe, sebelum akhirnya mendapat proyek Power Rangers Breast Morphers dan Power Rangers Dino Fury.

Sementara Davi pernah bekerja sebagai tukang cat bangunan, perawatan gedung, hingga aktor ekstra film.

Ia pun sampai pernah pindah ke Bangladesh untuk bekerja di bidang 'post-production' film, sembari membantu organisasi nirlaba dan gereja di sana.

"Segala hal dilakukan untuk bertahan sampai dapat kerja [yang diinginkan]," ujar Davi.

Menurutnya, kunci untuk bisa bekerja di industri tersebut adalah dengan menambah keterampilan sebanyak mungkin.

"Pokoknya pengalaman tetap ditambah, sehingga pas ada kesempatan, perusahaan akan berpikir, 'Oh, orang ini sudah mengerjakan semua'," katanya.

Sementara itu, Osa menekankan pentingnya membangun jaringan atau 'network' dengan pelaku industri tersebut.

"Kalau tidak mengirim 'showreel' [portfolio], mengirim email, berhubungan dengan orang di LinkedIn, tanya feedback 'showreel', mereka enggak mungkin tahu kita ada," kata Osa.

"Setelah melihat situs perusahaan yang membuka lowongan, bisa buka LinkedIn, kasih tahu HRD bahwa kita sudah apply."

Bekerja secara virtual untuk perusahaan asing

Di Bali, Aryo, bekerja sebagai 'visual effects (VFX) artist', termasuk di sebuah rumah produksi film di Jakarta selama empat tahun.

Menurutnya banyak sineas di Indonesia seperti dirinya yang masih kurang dihargai, baik dari segi gaji atau jam kerja.

"Di industri VFX Indonesia banyak yang lembur-lembur sampai jam 3 pagi [tanpa dibayar]," katanya.

Aryo kemudian berusaha mencari lowongan kerja sebagai 'freelance' di perusahaan asal luar negeri dan sejauh ini ia sudah dipekerjakan perusahaan Amerika Serikat dan Kanada.

Perbedaan waktu memang jadi tantangannya, tapi Aryo mengaku tertarik dengan tawaran gaji yang lebih besar, serta keseimbangan antara waktu kerja dan istirahat, atau 'work-life balance', yang lebih baik.

Menurut Aryo, gaji di perusahaan asing "tidak bisa dibandingkan" dengan di Indonesia karena mereka bisa membayar pemula 10 kali lipat lebih tinggi.

"Attitude [perilaku] orang luar lebih apresiatif, ibaratnya saya sama superior saya, biar pun dia lebih tinggi jabatannya tapi saya tetap merasa dia bagian dari tim, bukan kasarnya kayak majikan," katanya.

"Kita diapresiasi sebagai seniman, bukan mesin perusahaan. Soal lembur itu pilihan dan kalau ambil, nanti akan dibayar."

Aryo mengatakan mungkin tidak semua perusahaan di luar punya budaya kerja yang sama, tapi dari pengalamannya bekerja untuk perusahaan Indonesia dan Kanada "lumayan berbeda jauh".

Menurut Aryo, animator asal Indonesia sudah terbukti tidak kalah hebat.

"Hanya saja di Indonesia fasilitasnya kurang dan bidang ini belum didukung sepenuhnya dalam sistem belajar-mengajar," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Seberapa Menjanjikan Profesi Animator di Indonesia? Ini Jawabannya

Seberapa Menjanjikan Profesi Animator di Indonesia? Ini Jawabannya

Video | Selasa, 14 Mei 2024 | 08:00 WIB

Terkini

Profil Fangfang Istri Vicky Prasetyo yang Ramai Menjadi Sorotan

Profil Fangfang Istri Vicky Prasetyo yang Ramai Menjadi Sorotan

Entertainment | Minggu, 12 Juli 2026 | 14:35 WIB

3 Dekade Menghibur, Project Pop Siap Guncang Jakarta Lewat Konser Forever Young Forever Fun

3 Dekade Menghibur, Project Pop Siap Guncang Jakarta Lewat Konser Forever Young Forever Fun

Entertainment | Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:40 WIB

Promotor Ungkap Konsep Fan Meeting Win Metawin di Jakarta, Dibuat Lebih Intim dan Eksklusif

Promotor Ungkap Konsep Fan Meeting Win Metawin di Jakarta, Dibuat Lebih Intim dan Eksklusif

Entertainment | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:49 WIB

Padi Reborn Bawa 'Momen Sakral' Konser Dua Delapan ke Layar Lebar: Siap-Siap Merinding!

Padi Reborn Bawa 'Momen Sakral' Konser Dua Delapan ke Layar Lebar: Siap-Siap Merinding!

Entertainment | Sabtu, 11 Juli 2026 | 06:05 WIB

Gaia Music Festival 2026 Ajak Penonton Menikmati Musik di Tengah Alam Bandung

Gaia Music Festival 2026 Ajak Penonton Menikmati Musik di Tengah Alam Bandung

Entertainment | Jum'at, 10 Juli 2026 | 21:59 WIB

Sinopsis Film Anak-Anak Bambu, King Faaz Siap Beri Kejutan

Sinopsis Film Anak-Anak Bambu, King Faaz Siap Beri Kejutan

Entertainment | Jum'at, 10 Juli 2026 | 12:21 WIB

Target 3 Juta Penonton di Film "402 Rumah Sakit Angker Korea", Simak Plot Twist Tak Terduga!

Target 3 Juta Penonton di Film "402 Rumah Sakit Angker Korea", Simak Plot Twist Tak Terduga!

Entertainment | Jum'at, 10 Juli 2026 | 10:42 WIB

Givri Taj Cerita Transformasi Lewat Operasi Plastik di Vietnam, Sedot Lemak hingga Fat Grafting

Givri Taj Cerita Transformasi Lewat Operasi Plastik di Vietnam, Sedot Lemak hingga Fat Grafting

Entertainment | Kamis, 09 Juli 2026 | 13:11 WIB

402 Rumah Sakit Angker Korea Gelar Premiere di Korea, Dapat Sambutan Hangat dari Penonton BIFAN 2026

402 Rumah Sakit Angker Korea Gelar Premiere di Korea, Dapat Sambutan Hangat dari Penonton BIFAN 2026

Entertainment | Kamis, 09 Juli 2026 | 11:15 WIB

26 Started with a Yes!: Kado Ultah Terindah Eltasya Natasha, Dilamar Kekasih

26 Started with a Yes!: Kado Ultah Terindah Eltasya Natasha, Dilamar Kekasih

Entertainment | Rabu, 08 Juli 2026 | 20:42 WIB

×