"Rekam ini, rekam! Jika memiliki akal, berpikir, jangan menghujat!" tegas atlet berusia 25 tahun tersebut.
Dia juga mengungkapkan bahwa selama di Korea, dirinya harus menjalani latihan keras hingga menangis.
Lain halnya dengan saat berlatih di Indonesia, dia menyebut dirinya "manusia biasa" yang tidak bisa langsung tampil maksimal tanpa persiapan.
Pro Kontra Netizen
Aksi Megawati Hangestri meluapkan kekesalannya di live TikTok tentu saja memancing reaksi beragam dari publik.
Sebagian netizen mengkritik Megawati karena dianggap tidak mampu menjaga sikap sebagai atlet internasional.
Mereka menyayangkan sikap emosionalnya yang dianggap merusak citra profesional.
Komentar seperti "Dulu ngefans, sekarang najis" hingga "Pantas tidak dipakai lagi di Korea" mewarnai lini masa media sosial.
Namun, tak sedikit pula yang membela Megawati. Banyak yang menilai bahwa luapan emosinya adalah hal yang wajar, mengingat tekanan dan ekspektasi tidak realistis dari publik.

Beberapa netizen menyatakan empati dan mengatakan bahwa Megawati juga manusia biasa yang bisa kelelahan secara fisik dan mental.
Alasan Megawati Pulang ke Indonesia
Megawati Hangestri sukses menorehkan beragam prestasi selama dua musim berkarier di Korea Selatan.
Dia ikut andil membawa Red Sparks ke final V-League dan meraih hampir 2.000 poin
Sayangnya, Megawati harus pulang ke Indonesia pada April 2025 karena ibunya sedang sakit.
Dia kemudian bergabung dengan Gresik Petrokimia di ajang Proliga 2025, dan hanya memiliki waktu satu hari untuk berlatih sebelum tampil di pertandingan.
Kurangnya waktu adaptasi ini berdampak langsung pada performa sang atlet di lapangan.
Kekalahan dari Popsivo Polwan dan gagalnya tim masuk tiga besar pun semakin memperkeruh situasi.
Hal tersebut memicu kritik keras dari publik yang terbiasa melihat Megawati tampil gemilang di Korea.
Megawati sempat menjelaskan dalam video lain bahwa dirinya bukan star syndrome, dan meminta mereka yang tidak suka untuk berhenti mengikutinya.
Dia mengaku tidak berniat marah, tetapi hujatan berlebihan membuatnya akhirnya kehilangan kesabaran.
Sebagai atlet yang pernah diakui dunia dan dijuluki Megatron, harapan publik memang tinggi.
Namun, ekspektasi tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman atas kondisi nyata yang dihadapi para atlet.
Kontributor : Chusnul Chotimah