Peluklah Luka, Merayakan Duka: Makna 'Perayaan Mati Rasa' di Netflix

Bernadette Sariyem Suara.Com
Kamis, 19 Juni 2025 | 18:30 WIB
Peluklah Luka, Merayakan Duka: Makna 'Perayaan Mati Rasa' di Netflix
Cuplikan film Perayaan Mati Rasa (Instagram/perayaanmatirasa.film)

Suara.com - Perayaan Mati Rasa, film terbaru dari Sinemaku Pictures yang disutradarai oleh Umay Shahab, kini menjadi perbincangan hangat di kalangan penikmat film, terutama anak muda.

Tayang di Netflix setelah sebelumnya rilis di bioskop pada 29 Januari 2025, film ini bukan sekadar drama keluarga biasa.

Dengan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran utama sekaligus produser eksekutif, film ini mengajak kita menyelami kompleksitas emosi, luka batin akibat kehilangan, dan tekanan ekspektasi yang begitu relevan dengan generasi milenial.

Ketika Kehilangan Memaksa Kita Merasa

Film ini berpusat pada kisah Ian Antono (Iqbaal Ramadhan), seorang anak sulung yang memikul beban berat untuk menjadi panutan.

Ia berjuang mengejar mimpinya di dunia musik bersama band-nya, Midnight Serenade, sebuah jalan yang kerap membuatnya dibanding-bandingkan dengan sang adik, Uta Antono (Umay Shahab).

Uta, dengan kariernya yang cemerlang sebagai podcaster terkenal, dianggap sebagai anak kebanggaan keluarga.

Hubungan yang sudah renggang antara kakak-beradik ini semakin rumit, ketika sebuah tragedi merenggut nyawa kedua orang tua mereka secara mendadak.

Di tengah duka yang mendalam, Ian, yang selama ini berusaha tegar, memilih untuk mengubur semua perasaannya.

Baca Juga: Tayang Hari Ini, Serial The Waterfront Suguhkan Drama Keluarga Sarat Intrik

Ia mengalami "mati rasa"—sebuah mekanisme pertahanan diri untuk tidak merasakan sakit.

Film ini kemudian menjadi sebuah perjalanan emosional tentang bagaimana Ian dan Uta, yang kini hanya memiliki satu sama lain, harus belajar saling menguatkan, melepaskan masa lalu, dan menemukan kembali makna hidup.

Film Perayaan Mati Rasa (Instagram)
Film Perayaan Mati Rasa (Instagram)

Fenomena 'Mati Rasa' dan Beban Anak Sulung

Perayaan Mati Rasa secara brilian mengangkat isu kesehatan mental yang seringkali tak terlihat: emotional numbness atau mati rasa emosional.

Karakter Ian adalah representasi sempurna dari fenomena ini. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi keluarga dan rasa "kalah" dari adiknya menciptakan sebuah dinding emosional.

Kehilangan orang tua menjadi pemicu akhir yang membuatnya menutup akses terhadap perasaannya sebagai cara untuk bertahan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI