Suara.com - Perjalanan karier Gary Iskak kembali disorot setelah kabar kepergiannya pada 29 November 2025 mengguncang publik Tanah Air.
Kematian mendadak aktor berusia 52 tahun ini membuat banyak orang kembali mengenang kiprahnya yang konsisten sejak awal tahun 2000-an.
Sebagai aktor serbabisa, Gary dikenal karena kemampuan aktingnya yang kuat dan fleksibel dalam berbagai genre film maupun sinetron.
Perjalanan panjang yang ia tempuh menghadirkan sejumlah karya monumental yang kini menjadi warisan berharga bagi industri hiburan Indonesia.
Awal Karier Gary Iskak di Industri Hiburan

Gary Iskak memulai kiprahnya pada awal 2000-an ketika dia menembus layar lebar melalui film Bintang Jatuh yang menjadi pijakan pertama kariernya.
Perjalanan tersebut berlanjut ke dunia sinetron setelah dia tampil dalam Opera SMU pada 2001 yang membuka ruang lebih luas untuk popularitasnya.
Namanya makin dikenal publik usai bermain dalam film populer seperti Ada Apa Dengan Cinta?, 30 Hari Mencari Cinta, dan Ungu Violet.
Momentum kemunculan beruntun di berbagai judul itu memperlihatkan potensi besar Gary sebagai aktor yang mampu mencuri perhatian generasi muda.
Baca Juga: Film Uti Deng Keke Diputar di Bioskop CGV Hari Ini, Mongol Stres Girang
Puncak Popularitas dan Penghargaan Besar

Puncak karier Gary terjadi pada 2007 ketika dia memerankan karakter Bule dalam film D'Bijis yang membuat namanya melambung tinggi.
Aksi memukau dalam film tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Indonesian Movie Actors Awards sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik.
Pada periode yang sama, dia juga membintangi sejumlah film sukses lain seperti Jatuh Cinta Lagi dan Merah Itu Cinta.
Meski sempat menghadapi masalah hukum, dia berhasil bangkit dan kembali menunjukkan dedikasi besar terhadap dunia seni peran.
Konsistensi Berkarya di Berbagai Genre Film

Memasuki 2010-an, Gary Iskak semakin produktif dengan membintangi lebih dari 35 film, puluhan sinetron, dan FTV yang memperkuat reputasinya.
Dia dikenal sebagai aktor fleksibel berkat kemampuannya berakting di genre komedi, drama, hingga horor tanpa kehilangan karakter khasnya.
Beberapa karya pentingnya pada periode ini termasuk Keluarga Tak Kasat Mata, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, dan Mangga Muda.
Film terakhir yang menampilkan dirinya, Sarung untuk Bapak, dirilis pada Oktober 2025 sebagai penutup perjalanan kreatifnya.
Kepergian Mendadak yang Mengguncang Industri Hiburan

Gary Iskak meninggal pada 29 November 2025 akibat kecelakaan tunggal saat mengendarai motor di kawasan Pesanggrahan.
Insiden tersebut membuatnya mengalami luka serius sehingga nyawanya tidak tertolong saat dirawat di RS Suyoto Jakarta Selatan.
Kabar duka dikonfirmasi keluarga dan segera menyebar luas, meninggalkan duka mendalam bagi kerabat dan rekan sesama artis.
Sebelum kepergiannya, Gary Iskak diperkenalkan sebagai anggota baru dari program konten horor misteri Diary Misteri Sara yang dibawakan oleh Sara Wijayanto.
Warisan karya Gary akan terus hidup dan dikenang oleh publik sebagai bagian penting dari perjalanan sinema Indonesia.
Kisah perjalanan Gary Iskak menggambarkan ketekunan seorang aktor yang terus berkarya hingga akhir hayatnya meski menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Kontributor : Chusnul Chotimah