Suara.com - Sepanjang 2025, bioskop dipenuhi dengan film-film yang memiliki hype selangit.
Mulai dari kembalinya sutradara pemenang Oscar hingga reboot waralaba legendaris.
Namun sayangnya, janji manis di trailer tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas di layar lebar.
Beberapa film justru terasa ‘kosong’ dan gagal menyentuh emosi penonton.
Penasaran film 2025 paling mengecewakan di mata penonton? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
1. Jurassic World Rebirth

Banyak yang berharap reboot ini menjadi napas baru bagi dunia dinosaurus dengan kembalinya penulis naskah orisinal.
Sayangnya, kehadiran Scarlett Johansson pun tak mampu menyelamatkan naskah yang lemah.
Dialognya terasa kaku dan dunianya justru terlihat lebih ‘palsu’ dibandingkan film pertamanya yang rilis puluhan tahun lalu.
Tak ayal Jurassic World Rebirth dipandang sebagai sebuah kemunduran bagi franchise sebesar ini.
2. Fountain of Youth

Duet John Krasinski dan Natalie Portman dalam arahan Guy Ritchie awalnya terdengar seperti resep sukses.
Namun, petualangan berburu artefak ini justru berantakan dengan alur cerita yang sangat datar.
Masalah utamanya ada pada chemistry kedua pemeran utama yang tidak meyakinkan.
Alhasil tontonan ini terasa hambar bahkan untuk sekadar hiburan akhir pekan.
3. The Phoenician Scheme

Wes Anderson kembali dengan visual simetris yang memanjakan mata, namun kali ini ia seolah lupa memberikan ‘jiwa’ pada ceritanya.
Hubungan ayah dan anak yang seharusnya menyentuh justru terasa dingin karena karakter-karakternya berbicara tanpa ekspresi.
Di balik kemegahan estetikanya, film ini terasa hampa dan sulit membuat penonton peduli.
4. Mickey 17

Sebagai karya terbaru Bong Joon-ho pasca-Parasite, ekspektasi publik tentu melambung tinggi.
Premis tentang manusia ‘sekali pakai’ di luar angkasa sebenarnya menarik, namun eksekusinya terasa seperti ceramah panjang yang membosankan.
Karakter utama yang diperankan Robert Pattinson dibuat terlalu lamban, sehingga alur film terasa melelahkan tanpa daya kejut yang berarti.
5. Eddington

Ari Aster mencoba mengangkat isu pandemi dan politik melalui film ini.
Namun bukannya memberikan potret sosial yang tajam, Eddington justru terasa terlalu menggurui dengan simbol-simbol yang terlalu harfiah.
Padahal, kehadiran Joaquin Phoenix dan Pedro Pascal sudah sangat menjanjikan, namun ketegangan yang diharapkan justru berakhir menjadi kelelahan emosional.
6. The End

Konsep musikal tentang akhir dunia terdengar sangat ambisius di atas kertas.
Sayangnya, Joshua Oppenheimer terjebak dalam durasi yang sangat panjang dengan struktur cerita yang berulang-ulang.
Alih-alih menggugah pemikiran tentang moralitas, film ini justru terasa pretensius dan terlalu sibuk mengagumi konsepnya sendiri hingga kehilangan dampak bagi penonton.
7. A Big Bold Beautiful Journey

Film ini menjadi contoh nyata dari sebuah karya yang ‘bermain terlalu aman’.
Alih-alih menggali kedalaman emosi manusia, ceritanya justru hanya bergerak di permukaan dengan pesan-pesan klise tentang masa lalu.
Tanpa arah yang jelas, film ini berakhir seperti tiruan karya klasik yang gagal memahami esensi maknanya.
Dari daftar film di atas, mana yang menurutmu paling bikin nyesel sudah beli tiketnya?
Kontributor : Safitri Yulikhah