Suara.com - Menyusul surat terbuka yang ditujukan untuk media Indonesia, Manohara Odelia Pinot kemudian menulis penjelasan mendetail soal keberatannya disebut sebagai 'mantan pasangan'.
Sebelumnya Manohara terang-terangan tidak setuju akan penggunaan sebutan 'mantan istri' Pangeran Kelantan dalam pemberitaan di media dan platform digital selama ini.
Manohara menyebut pernikahannya yang dulu jauh dari kata romantis dan bukan hubungan yang sah.
Kemudian pada postingan terbarunya, Manohara memberikan penjelasan lebih lanjut sembari menyinggung soal kekerasan seksual.
"Ketika seseorang mengalami kekerasan seksual, kita tidak menyebut mereka sebagai mantan pacar dari pelakunya," kata Manohara mengawali unggahannya dalam bahasa Inggris pada Selasa, 6 Januari 2026.
"Kita tidak membingkai kekerasan seksual sebagai sebuah hubungan asmara. Kita tidak mengubah kekerasan menjadi cerita suka sama suka. Logika yang sama berlaku di sini," lanjutnya.
Lebih lanjut model berusia 33 tahun ini menerangkan kalau apa yang terjadi di masa remajanya itu adalah sebuah paksaan.
"Saat itu saya berusia 15 tahun. Pria yang terlibat berusia 30-an. Tidak ada pacaran, tidak ada hubungan, dan tidak ada persetujuan. Apa yang terjadi adalah paksaan," jelas Manohara.
Oleh karena itu menyebut 'mantan pasangan' pada korban membuatnya tidak etis dan jelas tidak akurat.
"Menyebut korban sebagai "mantan pasangan" dari orang yang menyakiti mereka tidak membuat situasi tersebut menjadi lebih sopan atau lebih bisa diterima secara budaya," ungkap Manohara.
"Sebutan itu justru membuatnya tidak akurat. Lebih buruk lagi, hal itu mengalihkan fokus dari kejahatan yang terjadi dan malah membebankannya kepada sang anak," imbuhnya.
Wanita yang kini menjalin hubungan asmara dengan pria bule bernama Kristian Hansen ini menyinggung pentingnya penggunaan bahasa.
"Para korban tidak membutuhkan sebutan yang menyiratkan adanya pilihan, padahal kenyataannya tidak ada pilihan sama sekali. Inilah mengapa penggunaan bahasa itu penting," lanjutnya.
Selain itu, Manohara juga menegaskan kalau tidak sepantasnya kekerasan digambarkan sebagai hubungan karena itu berarti menganggap anak-anak sebagai partisipan dan bukannya korban.
Hal itu mengakibatkan dampak buruk, tidak hanya untuknya, tetapi juga untuk orang lain yang mungkin mengalaminya.
"Ketika kekerasan berulang kali digambarkan sebagai sebuah hubungan, hal itu mengajarkan masyarakat untuk memandang paksaan sebagai persetujuan, dan memandang anak-anak sebagai partisipan, bukan korban," tulisnya.
"Pola pikir tersebut menyebabkan dampak buruk yang nyata, tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi gadis-gadis lain yang melihat bagaimana situasi seperti ini dibicarakan," imbuh Manohara.
Sebagai penutup, aktris kelahiran 1992 ini juga bilang kalau dia tidak meminta untuk dikasihani. Dia cuma ingin informasinya akurat.
"Saya tidak meminta siapa pun untuk mengasihani saya. Saya hanya meminta keakuratan," tegas Manohara.
"Dan keakuratan itu berarti tidak menyajikan situasi paksaan yang melibatkan seorang anak sebagai hubungan orang dewasa yang sukarela. Itulah poin utamanya," pungkasnya.
Kontributor : Yoeni Syafitri Sekar