Suara.com - Serial Pernikahan Dini Gen Z mendadak menjadi perbincangan luas publik di tengah meningkatnya sensitivitas isu child grooming di industri hiburan Indonesia.
Sorotan terhadap serial ini menguat setelah pengakuan Aurelie Moeremans yang membuka kembali kewaspadaan terhadap relasi tidak setara.
Dalam serial tersebut, Richelle Skornicki yang masih berusia 16 tahun dipasangkan dengan Aliando Syarief berusia 29 tahun sebagai pemeran utama.
Perbedaan usia yang signifikan antara kedua aktor ini memicu kontroversi karena Richelle masih masuk kategori anak di bawah umur.
Publik menilai bahwa kombinasi usia, tema cerita, dan dinamika hubungan nyata para pemainnya berpotensi menimbulkan normalisasi relasi bermasalah.
![Aliando Syarief dan Richelle Skornicki di acara perkenalan series Pernikahan Dini Gen Z di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Jumat, 5 Desember 2025. [Rena Pangesti/Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/05/60089-aliando-syarief-dan-richelle-skornicki.jpg)
Isu tersebut semakin sensitif karena Richelle dan Aliando tidak hanya berperan sebagai pasangan fiksi, tetapi juga mengakui hubungan asmara nyata.
Banyak warganet menganggap relasi tersebut rawan disalahartikan sebagai bentuk pembenaran praktik grooming di ruang publik.
Aliando sendiri sempat menegaskan bahwa hubungan mereka bersifat organik dan tidak direkayasa demi kepentingan promosi serial.
Namun, klarifikasi tersebut belum sepenuhnya meredam kritik yang berkembang luas di media sosial.
Baca Juga: Dikaitkan dengan Buku Aurelie, Roby Tremonti Nangis-Nangis Minta Diundang ke Podcast Denny Sumargo
Perdebatan memuncak ketika sejumlah adegan dalam serial dinilai terlalu intim untuk diperankan oleh aktor di bawah umur.

Karakter Dini yang diperankan Richelle diceritakan hamil di luar nikah sehingga memunculkan adegan yang menyiratkan hubungan suami istri.
Beberapa cuplikan memperlihatkan adegan ranjang yang dinilai tidak memiliki urgensi kuat terhadap pengembangan cerita utama.
Meski tidak menampilkan adegan eksplisit, visual yang ditampilkan tetap dianggap melampaui batas kewajaran tontonan remaja.
Warganet menilai adegan tersebut berpotensi menimbulkan asumsi keliru meski dibungkus dengan narasi fiksi dan pengawasan produksi.
"Terlepas dari si cewek masih di bawah umur, adegan-adegan seperti ini sudah bisa membuat orang salah paham dan berasumsi yang tidak-tidak," komentar warganet.
Komentar publik menegaskan bahwa adegan intim tidak selalu dibutuhkan untuk menyampaikan pesan moral dalam sebuah serial remaja.
Kritik juga menyoroti minimnya nilai edukatif dari adegan tersebut, terutama jika diperankan oleh anak di bawah umur.
"Seharusnya sinetron atau series Indonesia tidak menormalisasi alur cerita seperti ini. Apalagi diperankan oleh anak di bawah umur," ujar yang lain.
Sebagian warganet mempertanyakan fungsi dramatik adegan tersebut dalam alur cerita yang seharusnya lebih berfokus pada konsekuensi sosial.
Menanggapi polemik, MD Entertainment selaku pihak produksi menyatakan seluruh adegan dilakukan dengan pengawasan ketat dari ibunda Richelle di lokasi syuting.
Pengawasan tersebut diklaim mencakup pemantauan langsung melalui monitor serta persetujuan terhadap setiap adegan sensitif.
Meski demikian, publik tetap menilai bahwa persoalan etika tidak semata soal izin orang tua, tetapi juga tanggung jawab industri.
Kontributor : Chusnul Chotimah