Suara.com - Tak hanya Roby Tremonti, nama Nikita Willy juga terseret menyusul Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans viral di media sosial.
Nikita disebut-sebut netizen sebagai sosok artis papan atas yang pernah menolak Aurelie jadi lawan mainnya di sinetron.
Di dalam bukunya, Aurelie juga mengungkap perlakuan kurang mengenakkan dari artis tersebut.
"Lalu dia masuk, pemeran utama, bintang yang semua orang mengitari. Ia menatap tepat padaku. Aku berdiri, berusaha sopan, tubuhku bergerak lebih cepat daripada otakku. Aku tersenyum kecil, gugup dan hormat. Ia tidak membalas senyum. Tidak menyapa. Ia mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti ada barang yang tiba-tiba dikirim ke rumahnya tanpa ia pesan. Tidak tahu lagi harus bagaimana, aku duduk kembali," penggalan cerita di buku karya Aurelie tersebut.
Cerita serupa juga pernah disampaikan Aurelie dalam sebuah talkshow. Dalam ceritanya, tempat ia duduk dibersihkan oleh asisten artis arogan tersebut. Sebab kursi tersebut merupakan milik si artis.
Cocoklogi ini membuat akun Nikita Willy diserbu netizen. Citranya sebagai ibu muda yang kalem bahkan jadi panutan mendadak luntur.
Ini karena Nikita dianggap sebagai pembully di masa lalu.
"Ternyata sejahat itu si NW, peluk Aurelie," komentar netizen.
"Kecewa sih kalau bener ceritanya," tambah netizen lain.
Baca Juga: Viral Kisah Pilu Aurelie Moeremans, Ini Ciri Pelaku Child Grooming yang Perlu Diwaspadai
"Minta maaf sana," pinta netizen di kolom komentar postingan Nikita.
Sementara itu, di podcast bersama Jordi Onsu dulu, sikap powerfull Nikita Willy sebagai ratu sinetron pernah diungkap.
Jordi menyebut jika ada pemain yang tak disukai Nikita, maka perannya akan hilang dengan dimatikan karakternya atau tersiram air keras hingga wajahnya berubah.
Nikita pun hanya tersenyum mendengar kisah masa lalunya yang disebut seperti penguasa rumah produksi (PH) tersebut.
Namun dia punya pembelaan tentang pernyataan Jordi yang menyebut dirinya suka membuat artis lain kehilangan pekerjaannya.
Menurutnya, Nikita tak suka dengan orang karena sikapnya di lokasi.