Suara.com - Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans membuka tabir kelam tentang pengalaman grooming yang pernah dialaminya.
Pengakuan tersebut sontak menyita perhatian publik dan memicu kesadaran bahwa pelaku grooming bisa berada di sekitar kita tanpa disadari.
Psikolog Joice Manurung menjelaskan bahwa pelaku grooming pada dasarnya adalah manipulator ulung.
Joice lalu menyebutkan ciri-ciri pelaku grooming yang harus diwaspadai.
“Namanya juga manipulator, manipulator itu jago banget mengemas semua. Mulai dari fisiknya, tampilannya, hingga cara bicara,” kata Joice Manurung dari akun YouTube Trans TV pada Selasa (13/1/2026).
Joice mengatakan bahwa pelaku grooming biasanya mempelajari korban secara detail, mulai dari cara berkomunikasi yang disukai anak hingga nada bicara yang membuat korban merasa nyaman.
“Jadi biasanya pelaku tuh belajar, bagaimana cara berkomunikasi yang efektif terhadap si anak itu,” kata Joice.
”Apa sih kata-kata yang dia sukai, nada bicara seperti apa, bentuk hadiah apa yang menarik buat dia itu dipelajari,” ujarnya menyambung.
Baca Juga: Klarifikasi Kak Seto Dituding Tak Bantu Aurelie Moeremans Lepas dari Cengkraman 'Bobby'
Semua itu bahkan dilakukan dengan perencanaan yang matang.
“Jadi terencana, ada surveynya, ada research-nya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Joice mengungkapkan bahwa pelaku grooming umumnya memiliki kendali dan kontrol terhadap korban.
Hal ini bisa berasal dari perbedaan usia, status sosial yang lebih tinggi, atau popularitas
“Karena tadi saya katakan ada kendali, ada kontrol. Kalau kendali itu biasanya karena usia lebih tua atau secara status sosial lebih tinggi, atau punya popularitas,” lanjutnya.
Pelaku grooming juga kerap membangun kebiasaan fisik secara bertahap, seperti sentuhan atau ciuman, untuk menormalisasi tindakan tersebut.
“Umumnya pelaku itu akan membuat sebuah “kebiasaan”. Misalnya menyentuh tuh dibiasakan, mencium itu juga dibiasakan,” katanya.
Bahkan, mereka tak segan menunjukkan konten bernuansa seksual agar korban merasa hal tersebut wajar.
Setelah itu, pelaku bahkan mulai berani masuk ke hal-hal yang bersifat lebih intim.
“Atau menunjukkan misalnya gambar-gambar yang arahnya seksualitas, supaya anak ini merasa bahwa ini (biasa) dan menormalisasi hal tersebut. Lalu masuk ke hal-hal yang lebih intimasi,” lanjut Joice.
Sementara itu, sosok Bobby yang diceritakan Aurelie melalui memoarnya digambarkan sebagai sosok lelaki lebih tua yang mendekatinya ketika ia berusia 15 tahun.
Saat melakukan pendekatan, Bobby menunjukkan berbagai tindakan yang membuat Aurelie tak bisa menolaknya.
Ia rela menunggu Aurelie yang tengah syuting hingga berjam-jam dan juga tak segan mengunjungi rumah Aurelie. Ia bahkan berani menyentuh dan melakukan hal-hal sensitif.
Semua tindakan yang dilakukan Bobby membuat Aurelie tak berkutik hingga memutuskan untuk menerimanya sebagai kekasih meski usia mereka terpaut sangat jauh.
Kontributor : Rizka Utami