- Buku Broken Strings ditulis sebagai bentuk terapi diri dan upaya berdamai dengan masa lalu, bukan untuk menyerang pihak tertentu.
- Aurelie merilis buku ini secara gratis dalam format e-book untuk membantu sesama penyintas trauma dan meningkatkan kesadaran orang tua tentang grooming.
- Menulis menjadi cara Aurelie menghadapi luka lama dan melepaskan beban batin demi menyambut kehidupan baru sebagai seorang ibu.
Suara.com - Dalam beberapa pekan terakhir, publik Tanah Air diguncang oleh memoar digital berjudul "Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth" yang ditulis oleh aktris Aurelie Moeremans.
Buku ini menjadi viral bukan hanya karena gaya penuturannya yang menyentuh, melainkan keberaniannya membongkar trauma masa lalu terkait dugaan child grooming dan hubungan toksik yang dia alami saat masih remaja.
Publik kemudian mengaitkan sosok pria manipulatif dalam buku tersebut dengan mantan kekasih Aurelie, Roby Tremonti.
Situasi memanas ketika Roby muncul ke publik, membantah tuduhan kekerasan serta menantang Aurelie membuktikan klaimnya, sembari meminta sang aktris fokus pada kehamilannya saat ini.
Di tengah riuhnya polemik tersebut, istri dari Tyler Bigenho ini akhirnya angkat bicara dalam wawancara via pesan singkat pada Rabu, 15 Januari 2026.
Aurelie menegaskan bahwa buku ini lahir bukan dari kebencian, melainkan kebutuhan mendesak untuk berdamai dengan diri sendiri.
Bukan Ajang Balas Dendam
Menanggapi tudingan bahwa buku ini sengaja dirilis untuk menyudutkan pihak tertentu atau membuka luka lama, Aurelie memberikan jawaban tegas.
Perempuan yang tengah hamil ini menyebut bahwa "Broken Strings" adalah upaya memahami sejarah hidupnya, bukan serangan balik.
Baca Juga: Kak Seto Lulusan Apa? Profil Psikolog Anak yang Ramai Dikaitkan dengan Kasus Aurelie
"Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku. Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah," tulis Aurelie kepada awak media.
Aktris 32 tahun ini mengakui, awalnya naskah tersebut tidak ditujukan untuk konsumsi publik. Trauma masa lalu, di mana suaranya sering kali diabaikan atau direspons dengan menyakitkan saat dia masih kecil, sempat membuatnya ragu.
Namun, kesadaran bahwa banyak perempuan dan orangtua mengalami nasib serupa mengubah pandangannya.
"Aku sadar banyak perempuan dan orangtua mengalami hal serupa dan merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka," tambahnya.
Polemik dan Keraguan yang Sempat Muncul
Tak bisa dipungkiri, viralnya buku ini memicu dua kubu, yakni dukungan masif dari netizen yang bersimpati, serta pihak kontra yang merasa tersudut. Aurelie mengaku, sebagai manusia biasa, dia sempat merasa goyah melihat besarnya dampak yang ditimbulkan.
"Jujur aja, sempat kepikiran. Ada momen aku bertanya ke diri sendiri, 'apakah aku terlalu jauh?', 'apakah aku membuka sesuatu yang seharusnya diam saja?’" ungkap Aurelie.
Namun, keraguan itu sirna setiap kali dia menerima pesan dari pembaca, baik korban yang akhirnya berani bersuara maupun orang tua yang mulai memahami bahaya grooming.
"Di titik itu aku tahu, diam justru akan lebih menyakitkan. Jadi bukan berarti aku kebal, tapi aku sudah berdiri di tempat yang jelas, dan aku tahu kenapa aku melakukan ini," tegasnya.
Bagi Aurelie, polemik yang terjadi adalah bagian dari proses yang harus diterima.
Menolak "Menjual Trauma"
Salah satu hal yang unik dari perilisan "Broken Strings" adalah formatnya yang berupa e-book gratis. Padahal, dengan atensi sebesar ini, potensi komersialnya sangat tinggi.
Aurelie menekankan bahwa sejak awal, niatnya murni untuk berbagi, bukan mencari keuntungan materi dari kisah pilunya.
"Karena dari awal tujuanku bukan komersial. Bahkan ebook pun aku rilis gratis karena jujur aku tidak ingin ada kesan 'menjual trauma'," jelas perempuan yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya tersebut.
Keputusan untuk akhirnya menaikkan naskah ini ke versi cetak baru diambil belakangan, setelah melihat permintaan pembaca yang ingin menjadikan buku tersebut pegangan fisik atau hadiah bagi orang terdekat.
"Di situ aku sadar, versi fisik itu bukan soal jualan, tapi soal keberlanjutan dan akses yang lebih luas," tambahnya.
Proses Pulih yang Belum Selesai
Banyak yang mengira Aurelie menulis buku ini karena sudah sepenuhnya sembuh dari trauma. Nyatanya, proses penulisan yang memakan waktu berbulan-bulan secara intens itu justru adalah terapinya.
Aurelie mengaku banyak memori yang selama bertahun-tahun dia simpan rapat dan anggap "selesai", ternyata masih bersarang di tubuhnya.
"Menulis membuat aku berhenti menyalahkan diri sendiri. Jadi buku ini bukan bukti bahwa aku sudah sembuh, tapi bukti bahwa aku berani menghadapi lukanya," tuturnya.
Kini, di tengah masa kehamilannya, Aurelie merasakan energi positif yang luar biasa. Bukan dari viralnya berita, melainkan dari rasa "lega" dan hilangnya beban yang selama ini dia pikul sendirian.
"Rasanya seperti beban yang selama ini aku pikul sendiri, sekarang dipegang ramai-ramai, dengan empati, bukan penghakiman," tutup Aurelie.
Bagi Aurelie, "Broken Strings" kini berdiri sendiri sebagai monumen keberaniannya. Meski dia mengaku produktif menulis selama hamil, dia memastikan karya selanjutnya, jika ada, mungkin akan tetap bertema perempuan dan proses pulih, namun bukan kelanjutan langsung dari kisah kelam ini.