Suara.com - Sejujurnya, saya sempat ragu ketika masuk ke bioskop untuk menonton 28 Years Later: The Bone Temple.
Film sebelumnya, 28 Years Later (2025) karya Danny Boyle memang berani, namun juga memecah penonton.
Ada yang memujinya sebagai kebangkitan dari waralaba zombi yang diawali oleh 28 Days Later ini.
Namun, ada pula yang menganggapnya terlalu muram dan melelahkan, serta bikin pusing karena banyaknya gambar goyang dan tidak stabil.
Saya sendiri berada di tengah-tengah, antara disturbing namun cukup memorable. Karena itu, saya menurunkan ekspektasi dan mencoba menikmati film ini apa adanya.
Ternyata, keputusan itu sangat tepat. The Bone Temple bukan hanya kelanjutan cerita, tetapi lompatan gila yang membuat saya terpaku dari awal hingga akhir.
Sekuel yang Lebih Tajam dan Berani

Disutradarai Nia DaCosta dan ditulis Alex Garland, The Bone Temple terasa jauh lebih fokus dibanding pendahulunya.
Cerita melanjutkan nasib Spike yang kini berada di daratan utama bersama kelompok ekstrem pimpinan Sir Lord Jimmy Crystal.
Di sisi lain, Dr. Ian Kelson melanjutkan penelitiannya tentang virus Rage, yang kali ini membuka kemungkinan baru soal kemanusiaan para infected.
Baca Juga: Sinopsis 28 Years Later: The Bone Temple, Kisah Dunia yang Kian Mengerikan
Yang langsung terasa adalah perubahan nada. Film ini lebih liar, lebih aneh, namun juga lebih manusiawi.
Jika film sebelumnya cenderung menekan dengan suasana suram, The Bone Temple justru berani menyelipkan humor gelap di tengah kekacauan.
Anehnya, pendekatan ini bekerja sangat baik dan membuat film terasa hidup.
Sir Lord Jimmy Crystal, Villain yang Sulit Dilupakan

Salah satu kekuatan utama film ini ada pada karakter Sir Lord Jimmy Crystal yang diperankan Jack O'Connell.
Penampilannya benar-benar tak terkendali, dalam arti terbaik. Jimmy adalah sosok sadis, karismatik, lucu, sekaligus mengerikan.
Setiap kali muncul, saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.