Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi

Yazir F Suara.Com
Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:30 WIB
Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi
Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi (imdb)

Yang membuatnya menarik, Jimmy bukan sekadar penjahat satu dimensi. Trauma masa lalunya terasa menempel di setiap dialog dan tindakannya.

Dia seperti anak kecil yang rapuh, terjebak dalam tubuh pemimpin kultus yang brutal. Kegilaannya bahkan lebih sadis dari ancaman infected.

Menurut saya, ini salah satu villain paling berkesan dalam film horor modern beberapa tahun terakhir.

Dr. Ian Kelson dan Sentuhan Kemanusiaan yang Mengejutkan

Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi (imdb)
Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi (imdb)

Jika Jimmy adalah wajah kegilaan, maka Dr. Ian Kelson adalah jantung emosional film ini.

Ralph Fiennes kembali membuktikan kelasnya sebagai aktor. Perannya terasa tenang, hangat, dan penuh empati, bahkan ketika dunia di sekelilingnya hancur.

Interaksi Kelson dengan Samson, infected alpha yang diperankan Chi Lewis-Parry, menjadi bagian favorit saya.

Alih-alih menakutkan, banyak adegan mereka justru terasa lembut dan kadang lucu, sampai-sampai membuat saya tersenyum.

Film ini berani mengajukan pertanyaan besar, apakah empati masih mungkin hidup di dunia yang dikuasai kekerasan?

Bagi saya, inilah elemen yang membuat The Bone Temple lebih dari sekadar film horor bertema zombi.

Baca Juga: Sinopsis 28 Years Later: The Bone Temple, Kisah Dunia yang Kian Mengerikan

Kekerasan yang Brutal, Namun Tidak Kosong

Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi (imdb)
Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi (imdb)

Bagi penonton yang merasa film sebelumnya kurang gore, The Bone Temple jelas tidak pelit.

Adegan kekerasannya intens, berdarah, dan sangat terasa fisiknya. Bahkan saya tidak sanggup menyaksikan otak manusia dijadikan camilan oleh zombi.

Tata rias dan efek praktikalnya terlihat nyata dan menjijikkan, membuat saya beberapa kali refleks menahan napas.

Namun yang saya apresiasi, kekerasan di sini tidak asal brutal. Kejam, tapi ada maksud di baliknya.

Semua adegan berdarah punya fungsi cerita, baik untuk menegaskan kegilaan kelompok Jimmy maupun menyoroti perubahan perilaku Samson.

Visual, Suara, dan Atmosfer yang Menakjubkan

Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi (imdb)
Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi (imdb)

Dari sisi visual, sinematografi The Bone Temple menghadirkan dunia yang benar-benar terasa mati. Lokasi-lokasinya lembap dan sunyi.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI