Suara.com - Dunia maya kembali dihebohkan dengan sebuah kisah yang memicu emosi para pengguna media sosial, khususnya di kalangan ibu muda.
Postingan perempuan itu kemudian menjadi viral setelah menceritakan pengalaman pahit seorang perempuan yang baru saja dikaruniai bayi kembar.
Bukannya mendapatkan dukungan moral atau kebahagiaan dari orang terdekat, dia justru menghadapi permintaan yang tidak masuk akal dari temannya sendiri.
Kisah ini bermula dari unggahan akun Instagram pesonagadis pada 22 Januari yang membagikan tangkapan layar curhatan sang ibu.
Dalam ceritanya, ia mengungkapkan bahwa temannya datang berkunjung bersama sang suami.
Namun, tujuan kunjungan tersebut bukanlah sekadar menjenguk atau merayakan kehadiran anggota keluarga baru, melainkan memiliki niat terselubung yang sangat menyakitkan hati sang ibu.
"Temanku dengan suamiya datang bukan hanya menjengukku tapi berniat mengambil salah satu anak kembar kami. Katanya karena sekarang aku nggak kerja takut kami nggak bisa ngebiayain anak-anak," curhat perempuan itu.
Permintaan ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, mengingat ikatan batin antara ibu dan anak, apalagi bayi kembar, adalah sesuatu yang sangat sakral.
Alasan pengangguran yang dilontarkan oleh sang teman dianggap sebagai bentuk penghinaan terselubung terhadap kemampuan orangtua dalam merawat anak mereka sendiri.
Namun, fakta yang lebih mengejutkan justru terungkap di balik latar belakang kehidupan teman yang meminta bayi tersebut.
Perempuan itu mengungkapkan bahwa kehidupan ekonomi temannya itu sebenarnya tidak lebih baik dari dirinya sendiri.
Ironi ini menambah luka bagi sang ibu yang merasa dihakimi secara sepihak.
"FYI pernikahan mereka sudah lama dan nggak punya anak, ekonomi mereka juga lebih ancur daripada aku, yang kerja cuma istrinya aja tapi omongan si suaminya seakan-akan yakin bisa menghidupi anak kami," jelasnya membeberkan detail kondisi temannya.
Kisah ini menyoroti bagaimana batasan dalam pertemanan seringkali dilanggar dengan dalih "perhatian" atau "bantuan."
Bagi banyak orang, tindakan meminta anak orang lain, terutama dengan merendahkan kondisi finansial orang tuanya, adalah tindakan yang sangat tidak etis.
Apalagi, fakta bahwa pihak yang meminta justru memiliki kondisi ekonomi yang lebih sulit menunjukkan adanya ketidaksadaran diri yang mendalam.
Postingan ini langsung mendapat respons luas dari netizen di kota-kota besar Indonesia.
Banyak yang merasa geram dengan sikap sang teman dan suaminya yang dianggap tidak memiliki empati.
Fenomena ini juga memicu diskusi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental ibu pascapersalinan dari komentar-komentar negatif lingkungan sekitar.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah