Suara.com - Bukan plot yang sempurna, tapi pesan yang menyentuh relung hati penontonnya kadang menjadi nilai lebih dari sebuah film.
Hal inilah yang coba ditawarkan oleh film Surat untuk Masa Mudaku yang mengaduk emosi penonton.
Meski secara objektif mungkin bukan film yang tanpa cela, namun karya ini sukses meninggalkan kesan hangat dan haru yang sulit dilupakan.
Itulah mengapa film ini tidak boleh ditonton tanpa persiapan. Yuk, simak review film Surat untuk Masa Mudaku yang sudah dirangkum berikut ini!
1. Panggilan untuk Berdamai dengan Masa Lalu

Salah satu alasan utama mengapa film ini begitu membekas adalah narasinya yang sangat relatable.
Semua pasti memiliki kenangan, penyesalan, atau pesan yang ingin disampaikan kepada diri di masa lalu.
Surat untuk Masa Mudaku berperan sebagai cermin bagi penonton untuk melihat kembali perjalanan hidup.
Meski ada beberapa transisi adegan yang terasa agak lambat, emosi yang dibangun dari awal hingga akhir terasa jujur dan tidak dibuat-buat.
2. Mengapa Harus Menyiapkan Tisu?

Jika kamu sedang mencari tontonan yang bisa menjadi sarana pelepasan emosi atau catharsis, film Surat untuk Masa Mudaku adalah jawabannya.
Baca Juga: A Tme to Kill: Intrik KKK, Rasisme Brutal, dan Dilema Moral, Malam Ini di Trans TV
Alur ceritanya didesain untuk menyentuh titik-titik melankolis dalam diri manusia.
Penulis skenario berhasil meramu dialog-dialog sederhana namun bermakna dalam, yang perlahan tapi pasti akan membuat mata penonton berkaca-kaca.
Memasuki babak ketiga film, persiapkan diri untuk ledakan emosi yang mungkin akan membuat menangis tersedu-sedu.
3. Kehangatan yang Membekas

Kehebatan film ini bukan hanya terletak pada kemampuannya memancing air mata, tetapi pada rasa hangat yang tertinggal setelah film selesai.
Alih-alih merasa hancur karena kesedihan, penonton justru akan merasa dipeluk oleh pesan moralnya.
Film ini mengajarkan tentang penerimaan dan bagaimana cara mencintai diri sendiri terlepas dari segala kesalahan di masa muda.